Minggu, 28 Oktober 2012

RBN - Tempat Diskusi Blogger Nusantara

RBN - Tempat Diskusi Blogger Nusantara merupakan sebuah groups komunitas facebook untuk para blogger yang sedang mengadakan sebuah kontes seo, saya sendiri baru disana namun saya merasa nyaman karena admin dari groups itu langsung terjun kelapangan untuk meninjau perkembangan membernya, saya berharaf dengan ini saya akan semakin betah untuk berbagi disana.


Pertama saya bergabung disana sudah senang membaca sebuah baner yang di pasang di groups itu yang berisi tulisan sebagai berikut


  • Topik yang didiskusikan mengenaik Blog, Website dan SEO.
  • dilarang Berkomentar diluar Topik Pembicaraan atau OTT ( Out Of Topic ).
  • Live link hanya diperbolehkan hari minggu ( Max 2x ).
  • diizinkan Live link untuk menjawab pertanyaan anggota lain.
  • dilarang Post yang berbagu Sara, Porno, atau OTT.
  • Ditegaskan untuk semua member untuk Berperilaku Sopan, Tidak mengejek atau menghina satu sama lain.

Jika sobat ingin bergabung di dalam kontes ini sobat di haruskan untuk memasang link sebagai berikut dengan rel dofolow


1. Grosir Sepatu Murah
2. Blog SEO
3. TOKO BAJU ONLINE MURAH
readmore »»  
Sabtu, 27 Oktober 2012

JANGAN BENCI AKU MAMA


Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan. Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah. Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya.
Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu.

Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.

Sampai suatu malam. Malam di mana saya bermimpi tentang seorang anak. Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arah saya. Sambil tersenyum ia berkata, “Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali pada Mommy!” Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya, “Tunggu…, sepertinya saya mengenalmu.
Siapa namamu anak manis?”
“Nama saya Elic, Tante.”
“Eric? Eric… Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric?”
Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu.Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus mati…, mati…, mati… Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric…
Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping.
“Mary, apa yang sebenarnya terjadi?”
“Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu.” Tapi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak. ..
Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangissaya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric.. Eric… Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali… Tidak terlihat sesuatu apa pun! Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu. Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah.
Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama… Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya. .. Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, saya pun keluar dari ruangan itu… Air mata saya mengalir
dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.
“Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!”
Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?” Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mommy…, mommy!’ Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu…”
Saya pun membaca tulisan di kertas itu…
“Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi…?
Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom…” Saya menjerit histeris membaca surat itu.
“Bu, tolong katakan… katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!”
Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.
“Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana … Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana .
Nyonya,dosa anda tidak terampuni!”
Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.
readmore »»  
Jumat, 19 Oktober 2012

Persahabatan sulit dijelaskan

Persahabatan sulit dijelaskan dan tidak pernah dipelajari di sekolah.
Namun, jika seseorang tidak berusaha mempelajari makna persahabatan, dia tidak dapat mempelajari apa-apa..

♥ “Sahabat layaknya pelangi yang
mencerahkan hidupmu setelah kau
berhasil melewati badai” ..

♥ “Sahabat layaknya dinding.
Kadang kau bersandar di sana, dan
kadang cukup mengetahui bahwa ia
selalu ada di sana.” ..
♥ “Sahabat adalah dia yang tahu
kekuranganmu, tapi menunjukkan
kelebihanmu. Dia yang tahu
ketakutanmu, tapi menunjukkan
keberanianmu” ..

♥ “Sahabat adalah dia yang tahu
apa yang dia miliki ketika bersamamu,
bukan dia yang menyadari siapa
dirimu setelah dia kehilanganmu.” ..

♥ “Sahabat sejati ialah orang yang
mencintaimu meskipun telah
mengenalmu dengan sebenar-
benarny a iaitu baik dan
burukmu” ..

♥ “Sahabat yang baik adalah orang
yg sangat kita percayai dan membuat
kita tenang bersamanya. Dia menjadi
tempat berbagi kelelahan, berbagi
kesedihan dan tidak pernah menjual
rahasia diri kita” ..

“Jangan hianati dia! karena
dialah yg slalu ada sbgai
penggantimu, karena dia
sahabatmu!”

Persahabatan diwarnai dengan
berbagai pengalaman suka dan duka,
dihibur-disakit i, diperhatikan-di
kecewakan, didengar-diabai kan,
dibantu-ditolak , namun semua ini
tidak pernah sengaja dilakukan
dengan tujuan kebencian”

Teman itu seperti bintang Tak
selalu nampak Tapi selalu ada dihati,
Sahabat akan selalu menghampiri
ketika seluruh dunia menjauh Karena
persahabatan itu seperti tangan
dengan mata Saat tangan terluka,
mata menangis Saat mata menangis,
tangan menghapusnya”

Sahabat..., “Jangan
banggakan apa yang kamu punya.
Banggakan bagaimana caramu
mendapatkan apa yang kamu punya.
Lakukan apapun yang kamu suka.
Karena kamu tak akan merasa
terpaksa,dan jika kamu gagal tak
akan merasa kecewa.”
.
•☆☆¸•PERSAHABATAN•☆☆¸.•
readmore »»  
Sabtu, 13 Oktober 2012

Bukan hanya kata kata

Bukan hanya kata kata saja
Sepenuh cinta datang padaku
Semua rasa yang sedang kurasakani
Terasa sejuknya
Tiada jemu terus dan terus
membaca
Selama mulutku masih berucap
Selama itu ku membaca ayat-Mu
Selama darahku masih mengalir
Amalan ayat-Mu tak pernah
berakhir
Semuanya akan ku baca
Tanpa ada keraguanku
Semuanya membuat hidup ini
Semakin bermakna
Tiada ragu untuk amalkan ayat-Mu
Tiada lelah dan tiada berhenti
Ikuti jalan-Mu
readmore »»  
Senin, 08 Oktober 2012

Sebuah Cerita Seorang Ahli Ibadah Yang Menyusuri Lautan

Abdul Wahid bin Ziyad menceritakan,

Kami berada dalam sebuah perahu, lalu kami terlempar oleh angin hingga sampai di sebuah pulau. Kami mendapati seorang laki-laki yang menyembah berhala di pulau itu, maka kami bertanya kepadanya,

‘Kepada siapa kamu menyembah?’ Dia menunjuk kepada sebuah berhala. Kemudian kami berkata,

‘Sesungguhnya ada benda seperti ini dalam perahu kami. Benda (berhala) ini bukanlah tuhan yang patut disembah.’ laki-laki itu balik bertanya,

‘Lalu, kepada siapa kalian menyembah?’

‘Allah.’

‘Siapa Allah itu?’

‘Dzat Yang singgasana-Nya ada di langit, Dzat Yang kekuasaan-Nya ada di bumi, dan Dzat yang kehidupan serta kematian adalah menjadi ketentuan-Nya.’

‘Bagaimana kalian bisa mengetahui dan mengenal-Nya?’

‘Dzat Yang Mahadiraja ini mengirim seorang Rasul kepada kami, lalu Rasul itu mengabarkan kami akan hal itu.’

‘Lantas bagaimana keadaan Rasul itu?’

‘Ketika beliau melaksanakan misinya, Allah mencabut nyawanya.’

‘Apakah dia meninggalkan satu tanda untuk kalian?’

‘Ya, beliau meninggalkan kitab Yang Maha Menguasai.’

‘Tunjukkanlah kitab itu kepadaku. Sudah sepatutnya bila kitab-kitab yang Maha Menguasai adalah indah dan baik.’ Kami pun menyodorkan mushaf Al-Quran kepadanya, lalu dia berkata,

‘Aku tidak tahu ini.’ Kemudian kami membacakan satu surat Al-Quran untuknya. Kami terus membacanya, dan dia menangis hingga kami selesai membaca satu surat itu. Lantas dia berucap,

‘Tidak seharusnya pemilik firman ini didurhakai.’ Setelah itu dia menyatakan diri untuk masuk Islam. Kami membawanya bersama kami, lalu mengajarkan syariat-syariat Islam dan beberapa surat Al-Quran kepadanya. Ketika malam telah gelap, dan kami usai melaksanakan shalat isya, kami bersiap-siap di pembaringan kami, lalu laki-laki itu bertanya,

‘Wahai kaum, apakah Tuhan yang telah kalian tunjukkan kepadaku ini akan tidur ketika malam telah gelap?’ Kami menjawab,

‘Tidak, wahai hamba Allah. Dia Maha Agung, terus menerus mengurus(makhluk-Nya), Dia tidak pernah tidur.’

‘Seburuk-buruk kaum adalah kalian. Kalian tidur, sedang Tuhan kalian tidak pernah tidur.’ Sungguh ucapannya membuat kami kagum! Saat kami sampai di Ubadan, aku berkata kepada teman-temanku,

‘Laki-laki ini baru mengetahui Islam .’ Kami pun mengumpulkan uang, lalu kami memberikan uang itu kepadanya. Laki-laki itu kembali bertanya,

‘Apa ini?’

‘Kamu akan membelanjakan uang itu.’

‘Tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah! Kalian telah menunjukkan jalan yang telah kalian tempuh kepadaku. Dahulu aku berada di sebuah pulau di tengah-tengah lautan dalam keadaan menyembah berhala. Dia tidak menyia-nyiakan aku, sedang aku akan mengenali-Nya.’ Beberapa hari kemudian aku mendengar bahwa dia dalam keadaan menghadapi maut. Maka aku mendatangi dan bertanya kepadanya,

‘Apakah ada sesuatu yang bisa aku lakukan untukmu?’

‘Semua kebutuhan telah ditunaikan oleh orang-orang kalian yang datang ke pulauku,’ jawabnya.”

Abdul Wahid meneruskan ceritanya, “Mataku terpejam, aku tertidur di sampingnya. Aku melihat pemakaman kota Ubadan menjadi kebun yang di dalamnya terdapat sebuah kubah. Di dalam kubah itu ada tempat tidur (ranjang) dan seorang wanita yang kecantikannya tiada duanya. Aku pun bergumam,

‘Demi Allah, aku tidak memohon kepada-Mu, melainkan agar Engkau segerakan dia, sungguh rasa rinduku kepadanya telah membuncah.’ Lalu aku terbangun, aku mendapatinya telah meninggalkan dunia ini. Aku pun memandikan, mengkafani, dan menguburkannya. Ketika malam telah larut, aku tidur dan melihatnya di kubah itu bersama seorang wanita cantik. Dia membaca ayat,

“Sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’du: 23-24)[1]

Dikutip dari “Belaian Bidadari di Alam Mimpi”

penulis Syaikh ‘Isham Hasanain
readmore »»  
Sabtu, 06 Oktober 2012

Kisah Kasih Sayang Ibunda

Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya Suaminya sudah lama meninggal karena sakit Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya. Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi.

Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang, Namun ia sering berdoa memohon kepada Tuhan: “Tuhan tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya tidak berbuat dosa lagi

Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati”

Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya, sudah sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya. Suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa, namun malang dia tertangkap Kemudian dia dibawa ke hadapan raja utk diadili dan dijatuhi hukuman pancung pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan keesokan hari di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi

Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa berlutut kepada Tuhan “Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosa nya”


Dengan tertatih tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan
Tapi keputusan sudah bulat, anakknya harus menjalani hukuman

Dengan hati hancur, ibu kembali ke rumah Tak hentinya dia berdoa supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena kelelahan Dan dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan

Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong2 manyaksikan hukuman tersebut Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak sudah pasrah dengan nasibnya

Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, dan tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga berdentang sudah lewat lima menit dan suasana mulai berisik, akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng datang

Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada. Saat mereka semua sedang bingung, tiba2 dari tali lonceng itu mengalir darah Darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu diikat. Dengan jantung berdebar2 seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah

Tahukah anda apa yang terjadi?
Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan lonceng tidak berbunyi, dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur di dinding lonceng

Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara si anak meraung raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan. Menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng Memeluk besi dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya
readmore »»  
Jumat, 05 Oktober 2012

Saat Indah Dulu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi

Dulu,
karnamu aku tau apa itu pengorbanan.
Karnamu aku tau arti cinta sesungguh.a.
Tapi karnamu pula aku merasakan sakit yang tag bisa aku jelaskan.
karnamu pula aku takud untuk jatuh cinta lagi.

Walau demikian.
Kau pernah menjadi oank yang berarti dalam hidupku.
Aku bahagia pernah memilikimu,
karna kau satu".a pacar yang perhatian dan bisa menerima kekuranganku.
Meski kini mungkin bagimu aku hanyalah seorang musuh yang tag berarti dan harus terpisahkan oleh jarakk.

Tapi percayalah,,
kenangan yang pernah kita lewati ngga' akan pernah akku lupain.
Thanks karna uda pernah mengisi hari"ku.:)

Rasa.a gaakan mungkin ada pengganti sepertimu.:'(
readmore »»  
Rabu, 03 Oktober 2012

Kasih Sepanjang Jalan

Di stasiun kereta api bawah tanah Tokyo, aku merapatkan mantel wol tebalku erat-erat. Pukul 5 pagi. Musim dingin yang hebat. Udara terasa beku mengigit. Januari ini memang terasa lebih dingin dari tahun-tahun sebelumnya. Di luar salju masih turun dengan lebat sejak kemarin. Tokyo tahun ini terselimuti salju tebal, memutihkan segenap pemandangan.
Stasiun yang selalu ramai ini agak sepi karena hari masih pagi. Ada seorang kakek tua di ujung kursi, melenggut menahan kantuk. Aku melangkah perlahan ke arah mesin minuman. Sesaat setelah sekeping uang logam aku masukkan, sekaleng capucino hangat berpindah ke tanganku. Kopi itu sejenak menghangatkan tubuhku, tapi tak lama karena ketika tanganku menyentuh kartu pos di saku mantel, kembali aku berdebar.
Tiga hari yang lalu kartu pos ini tiba di apartemenku. Tidak banyak beritanya, hanya sebuah pesan singkat yang dikirim adikku, "Ibu sakit keras dan ingin sekali bertemu kakak. Kalau kakak tidak ingin menyesal, pulanglah meski sebentar, kak�c". Aku mengeluh perlahan membuang sesal yang bertumpuk di dada. Kartu pos ini dikirim Asih setelah beberapa kali ia menelponku tapi aku tak begitu menggubris ceritanya. Mungkin ia bosan, hingga akhirnya hanya kartu ini yang dikirimnya. Ah, waktu seperti bergerak lamban, aku ingin segera tiba di rumah, tiba-tiba rinduku pada ibu tak tertahan. Tuhan, beri aku waktu, aku tak ingin menyesal�c
Sebenarnya aku sendiri masih tak punya waktu untuk pulang. Kesibukanku bekerja di sebuah perusahaan swasta di kawasan Yokohama, ditambah lagi mengurus dua puteri remajaku, membuat aku seperti tenggelam dalam kesibukan di negeri sakura ini. Inipun aku pulang setelah kemarin menyelesaikan sedikit urusan pekerjaan di Tokyo. Lagi-lagi urusan pekerjaan.
Sudah hampir dua puluh tahun aku menetap di Jepang. Tepatnya sejak aku menikah dengan Emura, pria Jepang yang aku kenal di Yogyakarta, kota kelahiranku. Pada saat itu Emura sendiri memang sedang di Yogya dalam rangka urusan kerjanya. Setahun setelah perkenalan itu, kami menikah.
Masih tergambar jelas dalam ingatanku wajah ibu yang menjadi murung ketika aku mengungkapkan rencana pernikahan itu. Ibu meragukan kebahagiaanku kelak menikah dengan pria asing ini. Karena tentu saja begitu banyak perbedaan budaya yang ada diantara kami, dan tentu saja ibu sedih karena aku harus berpisah dengan keluarga untuk mengikuti Emura. Saat itu aku berkeras dan tak terlalu menggubris kekhawatiran ibu.
Pada akhirnya memang benar kata ibu, tidak mudah menjadi istri orang asing. Di awal pernikahan begitu banyak pengorbanan yang harus aku keluarkan dalam rangka adaptasi, demi keutuhan rumah tangga. Hampir saja biduk rumah tangga tak bisa kami pertahankan. Ketika semua hampir karam, Ibu banyak membantu kami dengan nasehat-nasehatnya. Akhirnya kami memang bisa sejalan. Emura juga pada dasarnya baik dan penyayang, tidak banyak tuntutan.
Namun ada satu kecemasan ibu yang tak terelakkan, perpisahan. Sejak menikah aku mengikuti Emura ke negaranya. Aku sendiri memang sangat kesepian diawal masa jauh dari keluarga, terutama ibu, tapi kesibukan mengurus rumah tangga mengalihkan perasaanku. Ketika anak-anak beranjak remaja, aku juga mulai bekerja untuk membunuh waktu.
Aku tersentak ketika mendengar pemberitahuan kereta Narita Expres yang aku tunggu akan segera tiba. Waktu seperti terus memburu, sementara dingin semakin membuatku menggigil. Sesaat setelah melompat ke dalam kereta aku bernafas lega. Udara hangat dalam kereta mencairkan sedikit kedinginanku. Tidak semua kursi terisi di kereta ini dan hampir semua penumpang terlihat tidur. Setelah menemukan nomor kursi dan melonggarkan ikatan syal tebal yang melilit di leher, aku merebahkan tubuh yang penat dan berharap bisa tidur sejenak seperti mereka. Tapi ternyata tidak, kenangan masa lalu yang terputus tadi mendadak kembali berputar dalam ingatanku.
Ibu..ya betapa kusadari kini sudah hampir empat tahun aku tak bertemu dengannya. Di tengah kesibukan, waktu terasa cepat sekali berputar. Terakhir ketika aku pulang menemani puteriku, Rikako dan Yuka, liburan musim panas. Hanya dua minggu di sana, itupun aku masih disibukkan dengan urusan kantor yang cabangnya ada di Jakarta. Selama ini aku pikir ibu cukup bahagia dengan uang kiriman ku yang teratur setiap bulan. Selama ini aku pikir materi cukup untuk menggantikan semuanya. Mendadak mataku terasa panas, ada perih yang menyesakkan dadaku. "Aku pulang bu, maafkan keteledoranku selama ini�c" bisikku perlahan.
Cahaya matahari pagi meremang. Kereta api yang melesat cepat seperti peluru ini masih terasa lamban untukku. Betapa masih jauh jarak yang terentang. Aku menatap ke luar. Salju yang masih saja turun menghalangi pandanganku. Tumpukan salju memutihkan segenap penjuru. Tiba-tiba aku teringat Yuka puteri sulungku yang duduk di bangku SMA kelas dua. Bisa dikatakan ia tak berbeda dengan remaja lainnya di Jepang ini. Meski tak terjerumus sepenuhnya pada kehidupan bebas remaja kota besar, tapi Yuka sangat ekspresif dan semaunya. Tak jarang kami berbeda pendapat tentang banyak hal, tentang norma-norma pergaulan atau bagaimana sopan santun terhadap orang tua.
Aku sering protes kalau Yuka pergi lama dengan teman-temannya tanpa idzin padaku atau papanya. Karena aku dibuat menderita dan gelisah tak karuan dibuatnya. Terus terang kehidupan remaja Jepang yang kian bebas membuatku khawatir sekali. Tapi menurut Yuka hal itu biasa, pamit atau selalu lapor padaku dimana dia berada, menurutnya membuat ia stres saja. Ia ingin aku mempercayainya dan memberikan kebebasan padanya. Menurutnya ia akan menjaga diri dengan sebaik-baiknya. Untuk menghindari pertengkaran semakin hebat, aku mengalah meski akhirnya sering memendam gelisah.
Riko juga begitu, sering ia tak menggubris nasehatku, asyik dengan urusan sekolah dan teman-temannya. Papanya tak banyak komentar. Dia sempat bilang mungkin itu karena kesalahanku juga yang kurang menyediakan waktu buat mereka karena kesibukan bekerja. Mereka jadi seperti tidak membutuhkan mamanya. Tapi aku berdalih justru aku bekerja karena sepi di rumah akibat anak-anak yang berangkat dewasa dan jarang di rumah. Dulupun aku bekerja ketika si bungsu Riko telah menamatkan SD nya. Namun memang dalam hati ku akui, aku kurang bisa membagi waktu antara kerja dan keluarga.
Melihat anak-anak yang cenderung semaunya, aku frustasi juga, tapi akhirnya aku alihkan dengan semakin menenggelamkan diri dalam kesibukan kerja. Aku jadi teringat masa remajaku. Betapa ku ingat kini, diantara ke lima anak ibu, hanya aku yang paling sering tidak mengikuti anjurannya. Aku menyesal. Sekarang aku bisa merasakan bagaimana perasaan ibu ketika aku mengabaikan kata-katanya, tentu sama dengan sedih yang aku rasakan ketika Yuka jatau Riko juga sering mengabaikanku. Sekarang aku menyadari dan menyesali semuanya. Tentu sikap kedua puteri ku adalah peringatan yang Allah berikan atas keteledoranku dimasa lalu. Aku ingin mencium tangan ibu....
Di luar salju semakin tebal, semakin aku tak bisa melihat pemandangan, semua menjadi kabur tersaput butiran salju yang putih. Juga semakin kabur oleh rinai air mataku. Tergambar lagi dalam benakku, saat setiap sore ibu mengingatkan kami kalau tidak pergi mengaji ke surau. Ibu sendiri sangat taat beribadah. Melihat ibu khusu' tahajud di tengah malam atau berkali-kali mengkhatamkan alqur'an adalah pemandangan biasa buatku. Ah..teringat ibu semakin tak tahan aku menanggung rindu. Entah sudah berapa kali kutengok arloji dipergelangan tangan.
Akhirnya setelah menyelesaikan semua urusan boarding-pass di bandara Narita, aku harus bersabar lagi di pesawat. Tujuh jam perjalanan bukan waktu yang sebentar buat yang sedang memburu waktu seperti aku. Senyum ibu seperti terus mengikutiku. Syukurlah, Window-seat, no smoking area, membuat aku sedikit bernafas lega, paling tidak untuk menutupi kegelisahanku pada penumpang lain dan untuk berdzikir menghapus sesak yang memenuhi dada. Melayang-layang di atas samudera fasifik sambil berdzikir memohon ampunan-Nya membuat aku sedikit tenang. Gumpalan awan putih di luar seperti gumpalan-gumpalan rindu pada ibu.
Yogya belum banyak berubah. Semuanya masih seperti dulu ketika terakhir aku meninggalkannya. Kembali ke Yogya seperti kembali ke masa lalu. Kota ini memendam semua kenanganku. Melewati jalan-jalan yang dulu selalu aku lalui, seperti menarikku ke masa-masa silam itu. Kota ini telah membesarkanku, maka tak terbilang banyaknya kenangan didalamnya. Terutama kenangan-kenangan manis bersama ibu yang selalu mewarnai semua hari-hariku. Teringat itu, semakin tak sabar aku untuk bertemu ibu.
Rumah berhalaman besar itu seperti tidak lapuk dimakan waktu, rasanya masih seperti ketika aku kecil dan berlari-lari diantara tanaman-tanaman itu, tentu karena selama ini ibu rajin merawatnya. Namun ada satu yang berubah, ibu...
Wajah ibu masih teduh dan bijak seperti dulu, meski usia telah senja tapi ibu tidak terlihat tua, hanya saja ibu terbaring lemah tidak berdaya, tidak sesegar biasanya. Aku berlutut disisi pembaringannya, "Ibu...Rini datang, bu..", gemetar bibirku memanggilnya. Ku raih tangan ibu perlahan dan mendekapnya didadaku. Ketika kucium tangannya, butiran air mataku membasahinya. Perlahan mata ibu terbuka dan senyum ibu, senyum yang aku rindu itu, mengukir di wajahnya. Setelah itu entah berapa lama kami berpelukan melepas rindu. Ibu mengusap rambutku, pipinya basah oleh air mata. Dari matanya aku tahu ibu juga menyimpan derita yang sama, rindu pada anaknya yang telah sekian lama tidak berjumpa. "Maafkan Rini, Bu.." ucapku berkali-kali, betapa kini aku menyadari semua kekeliruanku selama ini.
readmore »»  
Selasa, 02 Oktober 2012

Arti Dan Sebuah Cinta

Aku duduk bersandar dan aku merasa lemah sekali…., dan tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk membuktikan sebuah angan yang menjadi beban dalam kebisingan otakku, aku tak tahu lagi bagaimana aku membuktikan apa yang kurasa pada dirimu, dirimu bagaikan batu yang harus kutembus dengan tetesan air sedikit demi sedikit,….. dan akankan diriku mampu menerimamu apa adanya…… ?
Aku sadar siapakah diriku,… sungguh aku tak pantas untuk mendapatkan cinta dari seorang yahya, seorang putra dari seorang ahli ibadah dan tersohor di negeri ini, gagah rupawan dan tak terbesit pun kekurangan dari dirinya. Sedangkan diriku … hanyalah seorang pemuas hasrat lelaki yang mendambakan kehangatan sesaat. Bukan aku tidak memiliki rasa mencintai untuknya dan bukan pula sebuah batu yang hendak ia runtuhkan sekalipun, aku hanya berpikir bagaimana ia kelak menjawab seluruh pandangan orang disekitarnya akan keberadaanku, oh.. tuhan.. mengapa cinta ini Engkau anugerahkan diantara kami, apakah ini yang memang Engkau harapkan terhadap kami…?
Izza namaku, hidupku berantakan sejak aku menjadi korban trafficking, saat itu aku masih 16 tahun. Disebuah terminal segerombolan laki – laki mendekati dan menyekapku, aku tak berdaya dibuatnya dibawalah aku dalam sebuah ruang yang kosong, sepi dan tampak berantakan. Aku dibuatnya layaknya boneka yang mereka lakukan dengan bergiliran dan mereka memperkosaku. Hancur rasanya kala itu aku bagaikan mati tak memiliki rasa apapun.
Haripun berganti, aku dijual pada seorang wanita paruhbaya dan kemudian aku dipekerjakan sebagai seorang wanita penghibur disebuah klub malam. Tak terasa sudah 5 tahun aku bekerja dan kini usiaku sudah 21 tahun. Suatu awal kisah cinta ini terjadi, datanglah padaku sesosok pria tampan dengan wajah yang menampakkan kesedihan diraut wajahnya. ‘ mbak temani aku untuk sesaat ‘ itulah kata yang pertama keluar dari mulutnya, ‘ aku mencari seseorang yang bisa menjawab kegelisahanku, dimanakah aku menemukan belahan jiwaku yang membuatku tentram ? … aku kemari bukan untuk kesenangan, terkadang sebuah jawaban datangnya dari sesuatu yang tak pernah kita sangka..’ kemudian aku menoleh dan menatap wajahnya dengan tatapan tajam, dan aku bertanya ‘ apakah yang engkau pikirkan ..? ‘ dan ia menjawab ‘ ayahku yang sangat kuhormati mengharapkan seorang keturunan, dan aku tak mampu memenuhinya karena tak satupun wanita yang kukenal mampu meruntuhkan hatiku, dimanakah aku bisa mendapatkan cinta …?’, kemudian aku menjawab ‘ bersahabatlah kamu karena Allah dan mencintailah kamu karena Allah, bila kamu mencintai sesorang berdasar pada hasrat maka cinta itu adalah palsu’
Aku terperangah mendapatkan jawaban diluar dugaanku,… siapakah dia ?… sehingga mampu memberikan jawaban yang sangat mendalam. Izza kau membuat aku bertambah payah, jawaban yang kau berikan membuatku semakin menggila dengan anganku sendiri. Dan sejak saat itu aku semakin sering mengunjunginya dan membuatku semakin akrab dengannya. Pemikiran yang luas jiwa yang lapang ternyata itulah yang kuharapkan dan itu terdapat dalam diri izza.
Dan suatu ketika hujan yang lebat anginpun sangat kencang aku duduk bersandar dibawah sebuah pohon dengannya, saat itu pula aku menyatakan bahwa selama ini aku larut dalam jiwa izza, ‘ izza tak kusangka ternyata kau mampu membuatku hanyut, kini aku sadar bahwa beginilah rasa mencintai dan maukah kau menjadikan aku sebagai teman hidupmu…? tak terucap pun kata dari bibirnya, matanya memerah dan keluarlah air itu dari matanya yang manis. Tak lama ia berucap ‘ tak sadarkah apa yang kau ucapkan ?… ” lalu ia pergi entah kemana dan tak ingin aku mengikutinya.
Dua minggu aku tak bertemu dengan izza pikiranku melayang menahan semua kerinduan yang membuat dada ini semakin sesak, ketika hari menjelang sore aku duduk disebuah taman depan rumahku. Dari kejauhan aku melihat seseorang mendekati rumahku, aku terperangah saat aku tahu siapa dia dengan lekas aku meloncat dari tempat dudukku dan menghampirinya ‘ izza apakah yang membuatmu datang kemari ?.. ‘ sesaat ia terdiam lalu berkata ‘ tak sadarkah kau apa yang kurasakan, aku tak mampu membohongi diriku aku tak mampu selalu berpaling darimu… aku mencintaimu…’ aku seolah tak percaya apa yang ia katakan tak sadar aku sudah memeluk dirinya erat dan tak terasa aku air mata pun jatuh….
Dan kuperkenalkan ia dengan orang tua dan saudaraku akan kehadiranya dan hubungan ini, tak butuh waktu lama orang tuaku shock mendengar kejujuranku… seolah ia tak menerima kenyataan yang terjadi. Setelah segelas air ia habiskan lalu ayahku berkata ‘ tak satupun kejadian didunia ini yang luput dari kehendakNya , anakku jagalah, rawatlah bakal istrimu dengan baik… apapun yang terjadi… dan bersabarlah’.
readmore »»