Selasa, 18 Desember 2012

Sebuah Kisah Kepingan Batu Yang Berlumut Versi Ida Yunandri

Ini hanyalah kisah kepingan batu yang berlumut…

  • sepi…
  • sunyi…
  • sendiri….

Tak ada yang tahu….
Bahkan kau pun tak menyadari keberadaanku..
Aku sendiri…
Disini..
Sendiri dengan mimpiku..
Cukuplah dengan mimpiku…
Anganku…
Yang mengharapkanmu…
Aku sadari aku hanyalah batu yang berlumut…
Yang takkan pernah kausadari…
Hati ini…

Reply by Putra Kazuya

Mungkin itu kisah tentang apa yang kau rasakan
tapi kau tidak merasakan aku ada
disini , terdiam dan tak mengerti
apa yang harusku lakukan dengan semua ini

Mungkin jika kau mengetahui tentang ini
itu hanyalah ke ajaiban
aku sembunyi, tak terlihat dan tak bersuara
mungkinkah kau mengetahuinya

Jika kau hanyalah batu yang berlumut
maka aku akan datang dengan segengam
taburan pasir yang akan menghapus semua lumut itu
tapi ada sebuah kisah kepungan batu yang belumut
di hatiku aku belum bisa menghapusnya.
readmore »»  
Selasa, 11 Desember 2012

Kisah Cinta Ku Seperti Kepingan Batu Yang Berlumut

Kisah Cinta Ku Seperti Kepingan Batu Yang Berlumut - Kisah ini adalah kisah nyata yang pernah aku jalani dengan seseorang yang tidak mungkin aku miliki karena alasan yang tidak mungkin aku katakan pada kalian semua, bukan aku merahasiakan apa yang aku alami namun aku masih memiliki privasi yang tidak harus kalian ketahuai.

Kenapa aku ingin menuliskan kisah ku ini, karena aku ingin apa yang kau lakukan kepadaku akan selalu menjadi motivasi untuk ku, walau engkau telah pergi entah kemana, aku yakin esok atau lusa aku akan menemukanmu

Bukankah kau katakan kau akan selalu :
  • Menemaniku
  • Menasehatiku
  • Membimbingku
  • Menjagaku
  • Memperbaiki Kelakuanku
  • Menyadari Kesalahanku
Menemaniku
Ketika sunyi di malam tanpa bintang,
Kau menghampiri ku seperti di undang
Kau datang dengan seribu tawa
Membuatku tersenyum dan bahagia

Kau menemaniku hingga rasa sepi itu pergi berlahan
Aku tidak merasa aku sendiri lagi
Sering ku dengar kau

Menasehatiku
Saat itu aku sadar bahwa apa yang terjadi tidak mungkin akan kembali,
Karena saat itu aku baru saja meninggalkan seseorang yang juga aku sayangi
Dan harus ku tinggalkan dengan alasan aku bukan yang terbaik yang harus dia miliki.

Dengan semangat yang bergebu-gebu aku bangkit berlahan
Dan meninggalkan masa lalu bersamanya, lagi lagi kau

Membimbingku
Di jalan yang membuatku sadar bahwa hidup ini bukan untuk di sesali tapi untuk di pelajari
Aku sangat ingat saat itu kau katakan kepadaku : 

Bahwa tidak ada hal yang tidak mungkin apabila kau mencoba, walau terjatuh berkali-kali cobalah berdiri dan melihat jalan yang jauh disana pasti ada seseorang yang akan.
Menjagaku
Ternyata itu benar, karena aku merasa kau yang selalu menjagaku dalam kesedihan di masa laluku yang sangat kelam, karena aku bukanlah aku yang saat ini di waktu itu, aku terlalu banyak berbuat kesalahan yang akhirnya harus aku putuskan sendiri, hingga akhirnya kau sarankan aku untuk

Memperbaiki Kelakuanku
Aku sendiri tidak yakin akan apa yang kau sarankan, karena apa yang aku lakukan itu adalah jawaban dari apa yang saat itu tidak aku rasakan, kurangnya kasih sayank orang tua kepadaku membuat aku menjadi srigala yang selalu menerkam mangsanya dimana pun aku berada, seiringan waktu yang berjalan kau membuatku

Menyadari Kesalahanku
Entah apa yang kau lakukan kepadaku, sehingga membuatku menyadari kesalahanku hingga akhirnya aku menangisi perbuatanku di depan orang tuaku, aku sadar aku merusak diriku sendiri dengan sifat angkuhku.

Perjalanan Kisah Cinta Ku Seperti Kepingan Batu Yang Berlumut belum berakhir sampai disini, berhubung pihak blogger tidak mengizinkan tulisan yang aku coretkan lebih panjang lagi, mau tidak mau kisah ini kita sambung lagi besok hari.
readmore »»  
Jumat, 30 November 2012

Cerita Anak SMA : Harusnya Aku, Bukan Dia

Cerita Anak SMA : Harusnya Aku, Bukan Dia kiriman dari Fidyah Desy Ardilah ini merupakan Sebuah Cerpen yang sangat mnarik tentang cinta yang sangat mengharukan juga sangat sedih di jamin teman teman yang baca bisa anda mewek nagis sampai tersedu sedu kalau gak percaya silakan baca aja dech aksi dari cerpen yang satu ini


Harusnya Aku, Bukan Dia

Teringat akan masalalu yang kita lewati
Terasa indah, sejuk meresap didalam sanubari
Walau duka sempat singgah, hadapi bersama
Bahagia slalu dihatiku
Kini hilanglah sudah kisah, tinggallah kenangan
Saat dia datang, menghampirimu dengan segala janji
Berikan sudah semua atas nama cinta
Hapuskan cerita kita

#Ingatkah kamu by asap band

Setiap kali aku mendengar lagu itu, entah kenapa aku selalu teringat Saka. Yach, cowok itu adalah sahabat terbaikku semenjak aku duduk di bangku SMA. Terkadang banyak sekali teman-teman yang salah mengartikan hubungan kita, karena dimata teman-temanku, Tiwi dan Saka adalah dua sejoli yang saling mencintai dan saling menyayangi. Bagaimana tidak, hubungan persahabatan kita sering diwarnai kisah-kisah romantis yang spontan dan tidak sengaja sering kita pertontonkan didepan teman-teman sekelas.

Saat itu Rizal temen sekalasku, menjahiliku dengan memasukkan kucing  di tas kesayanganku, aku nich benci banget sama kucing. Eh malah tuh anak masukin kucing di tas kesayanganku. Tanpa pikir panjang, aku langsung menjerit dan melempar tasku jauh-jauh dariku. “waaaa… siapa yang naruh tuh kucing di tasku..?” gayaku sambil bertolak pinggang didepan kelas. “hahaha… Tiwi Tiwi, sama kucing aja takut, malu-maluin banget sih..!” jawab Rizal dengan mata jailnya. “ouw, berarti kamu yang njailin aku Zal” akupun langsung mnghampiri bangkunya “keluarin tuh kucing atau aku bakal laporin kamu sama anggota pelindung kucing. Biar kamu ditangkep tyuz dipenjara bareng kucing-kucing ganas yang udah pernah makan manusia..!” “hahaha… mana ada tuh kucing pemakan manusia. kebanyakan nonton film kartun nech.” “Rizal, aku gag mau tau yah. Sekarang keluarin tuh kucing dari tas kesayanganku. Cepet..!” “males banget, kluarin aja sendiri.” Gayanya

 sok cuek. Tak lama, Saka masuk kelas. “ada apa sih Wi..? jeritan kamu kedenger sampek kantin tuh, keras baget sih” “agh lebay kamu Ka, kantin sama kelas kita nih kan jaraknya jauh banget.” Jawabku dengan ekspresi sama sekali gag mood buat diajak bercanda. “kamu kenapa sih..?” “neh si Rizal, dia masukin kucing di tasku. Aku kan geli banget sama tuh kucing. Disuruh buat ngluarin tuh kucing malah gag mau. Njengkelin banget kan..!” gerutuku. Rizal yang saat itu ada di depanku malah senyum-senyum kayak orang gag punya dosa. “Apa`an sih kamu Zal, udah tau Tiwi benci banget yang namanya kucing. Pake acara njahilin dia sama kucing segala. Sekarang kluarin tuh kucing, atau kamu yang bakal aku buat kluar dari sini..!” ancam Saka dengan sok jantannya. “ya`elah Ka Ka, biasa aja kale`. Toh aku Cuma becanda.” “iya tapi becandamu kelewatan tau`…! Cepet kluarin tuh kucing..!” “iya iya…” jawab Rizal yang pada akhirnya menyerah dengan

 keteguhannya, dan saat itu aku yang masih memasang ekspresi ngambek langsung ditarik keluar kelas oleh Saka dengan menggandeng tanganku. Setelah diluar kelas “udah gag usah ngambek lagi, tambah jelek tau` kalau kamu masang muka kayak gitu…!” “masih kesel tau` sama si Rizal” “yaudah, Rizal udah ngluarin tuh kucing dari tasmu kan.” “tapi masih kesel Saka..” “Tiwi, Rizal kan Cuma becanda. Maafin dia yach..!” rayunya dengan nada sok manis. “Tiwi, senyum dong..! hmz..gag ada kaca yah..? liat tuh mukamu kalo pas lagi nagmbek gini jadi keliatan tambah jelek. Ayow senyum..!” dan akupun mengembangkan senyumku dengan terpaksa. “ih, senyumnya maksa gitu. Jadi tambah kayak badut tuch” akupun akhirnya mulai sebel plus sedikit geli mendengar guyonannya “apa`an sich kamu…!” responku sambil memukul lengan Saka secara perlahan dengan senyumanku yang mulai mengembang pastinya. “nah, kalo` senyum gini kan jeleknya jadi gag keliatan

 banget” “maksudnya, aku masih tetep jelek kalo udah senyum kayak gini.” “ea, itu kan udah ciptaan dari Tuhan Wi, jadi aku gag mungkin bisa bo`onglah. Beda sama aku, Saka yang udah dari sananya ganteng, meski dibagaimana`in juga tetep ganteng. hehehe” godanya kali ini. “ich, narsis banget sih kamu” jawabku sok cuek “halah, tinggal ngaku iya ajah susah banget sih. Ayow jawab iya dong..!” “gag, Saka jelek Saka jelek.. wlek…!” sambil menjulurkan lidahku dan aku berlari memasuki kelas, Sakapun juga mengikutiku dari belakang. Sesampai dikelas “Wi, akui dong kalo aku ganteng…” “gag agh, Saka tuh sekali jelek tetep jelek. Udah jelek narsis lagi” “Wi, apa susahnya sih bilang kalo aku itu ganteng..?”sambil memasang wajah dan nada suara yang sok melas “ya susahlah, orang kamu jelek kog” “agh, Tiwi gag asik. Ngambek deh ngambek” sekarang dia memasang ekspresi yang sok ngambek dengan bibir manyunnya “terserah lo…!”

 responku yang sekali lagi dengan menjulurkan lidahku. Tak sadar, ternyata saat kita berdua melakukan guyonan itu semua mata teman-teman sekelas tertuju pada kita berdua. “prasaan baru lima menit yang lalu si Tiwi ngambek tingkat berat dech. Kog sekarang jadi aneh gini sih.” Cletuk Sinta, teman sekelasku “yaelah, kayak gag tau mereka aja sih kamu Sin. Mereka kan udah ada udang dibalik rempeyek tuh” cletuk Rizal mulai ngajak perang lagi “Eh, apa`an si kamu Zal, prasaan dari tadi kayaknya udah mau ngajak ribut” komentarku kini. “udahlah Tiwi sayang. Biarin aja, mereka tuh syirik sama kita.” Nada Saka dengan sok lembutnya yang seakan-akan saat itu aku memang  -sesuatu- untuknya. “norak agh” “jiaah, kampungan lo” “waduh waduh, pusing dah” kini satu per satu teman-teman sekelasku mulai merespon ucapan Saka. Hmz, memang kampungan sih. Tapi bisa dibilang –sesuatu dech- hehehe.

Saka memang orang yang paling bisa ngerti`in aku dibanding sama temen-temenku yang lain. Bahkan feelnya padaku selalu tepat sasaran. Suatu hari selepas pulang sekolah aku berjalan sendiri melewati kebun yang tak ter-urus keberadaannya, dipertengahan jalan ternyata aku dihadang oleh 2 preman yang tiba-tiba menodongku. “heh. Cepet kasih duit atau apapun barang berharga lo ke gue..!” bentak salah satu preman itu dengan menodongkan pisau siletnya ke arahku, sedang yang satunya memastikan kondisi disekitar kejadian. “e…e… bang…maaf, aku gag ada uang buat dikasih ke abang” jawabku dengan nada gugup karna ketakutan “lo kira gue gag tau kalo anak-anak yang sekolah di tempat lo itu anak-anak orang kaya. Ahg kelamaan lo” preman itupun langsung merebut tasku yang saat itu berusaha dengan sangat susah payah aku pegang sangat erat, dan langsung mengobrak-abrik isi tasku. Aku yang saat itu memang diposisi terjepit dan ketakutan, gag bisa melawan para

 preman itu, aku hanya bisa diam, takut, dan berdo`a berharap bala bantuan datang menghampiriku. Dan syukur ternyata Saka datang buat aku “woi, jangan beraninya sama cewek aja. Lagian percuma aja ngobrak-abrik tas itu sampek jelekpun kalian gag bakal nemuin barang berharga disana..!” teriaknya dengan lagak sok nantang para preman-preman itu. “siapa lo..? udah lo minggir sana, anak ingusan kayak lo sama sekali gag pantang buat nantang kita.” Bentak preman itu pada Saka “maaf ya bang, tolong balikin tas itu sama pemiliknya. Atau aku bakal ngambil tas itu secara paksa dari tangan abang..!” kini Saka terlihat begitu serius dengan ucapannya “lo kira gue takut apa sama lo..! sini maju lo…!” dan preman itupun menantang Saka untuk mengajaknya beradu kekuatan, hmz untung si Saka itu anggota ekskul bela diri, jadi dia dengan beraninya melawan dua preman tersebut dengan jurus-jurus bela dirinya, sedang aku yang melihat kejadian itu hanya bisa

 diam, syok, seakan aku merasa ini mimpi apa bukan sih…? Kog serem amat adegan berantemnya, jadi kayak sinetron-sinetron. Eh, lebih parah ding. Dan Saat itu aku benar-benar was was melihat Saka melawan dua preman tersebut, dan prasaan itu semakin bertambah parah karna salah satu dari preman tersebut membawa pisau silet yang tadi sempat digunakannya untuk menodongku. Beruntung tak lama sejak kejadian itu berlangsung, datang segerombolan teman-teman sekolahku dan sejumlah warga sekitar yang membantu Saka dan akhirnya bisa melumpuhkan para preman jalanan itu. “kamu gag papa Wi..?” Tanya Saka dengan penuh kecemasan, saat itu aku memang benar-benar merasa ketakutan hingga spontan aku langsung memeluk Saka dan menangis di dadanya “aku takut Ka” “udah-udah, premannya udah ketangkep kog. tuh preman bakal langsung dibawa ke kantor polisi kog. Jadi kamu tenang ya Wi.” Ucapnya sambil mengelus punggungku yang memang saat itu aku masih memeluk erat

 tubuh Saka. “udah ah, gag usah nangis gitu, jelek tau`..!” sambungnya sambil mengusap air mataku yang masih deras mengalir di pipiku “sekarang kita pulang, biar aku yang nganter kamu nyampek rumah” “hmz, makasih ea Ka” kini rasa takut itu berangsur mulai menghilang, dan akupun melepas pelukanku “iya, makanya lain kali kudu lebih hati-hati. Gag usah pake acara sok berani jalan sendiri ditempat sepi.” “iya deh iya, maaf. Janji deh gag bakal ngulangin lagi. Udah trauma ini” “ea jangan trauma juga Wi, ntar malah jadi aku yang repot kudu nganter kamu pulang pergi tiap hari gara-gara kamu trauma” gayanya mulai meledek “ya gag juga lah Ka, udah deh gag usah becanda, masih takut nih.” “iya iya, maaf. Yaudah yuk pulang..!” Sakapun menggandeng tanganku, sekali lagi adegan itu dilihat oleh beberapa teman-temanku yang berada ditempat kejadian perkara.

Dan masih banyak lagi kejadian-kejadian improv romantis  lainnya yang meyakinkan teman-temanku untuk berdalil “Tiwi dan Saka itu dua sejoli gag sih..?.”  dan selalu kami dengarn serempak menjawab “menurut loe..?” dan membiarkan teman-teman sekelas berdecak heran melihat tingkah laku kita berdua.

Tapi itu hanya cerita lalu, saat Niken anak baru disekolah kita datang. Sebelum Niken menjadi satu kelas bersama aku dan Saka. Dan sebelum Niken perlahan merebut perhatianku terhadap Saka. Niken memang anak yang baik, pinter dan yang lebih mengagumkan lagi dia termasuk finalis gadis sampul dari salah satu majalah terkenal di Jakarta, jadi tak heran Niken selalu terlihat cantik dimanapun dan bagaimanapun kondisinya.

Hingga Saka perlahan meniggalkanku demi menemani hari-hari Niken yang lebih berwarna. Dan saat itu pula aku merasakan Saka tidak menjadi sahabatku lagi, untuk lebih tepatnya cintaku yang selama ini terpendam yang tak berani aku tuk mengutarakannya kini telah meninggalkanku. Harus ku akui, kini aku mencintai Saka. Namun apa yang tengah aku rasakan saat ini, yang terjadi adalah keberuntungan sedang tak berpihak kepadaku, saat ku tahu ternyata Saka menyimpan asa besar yang terpendam untuk bisa memiliki Niken sang gadis cantik itu. Hingga pada akhirnya, Saka bisa mewujudkan keinginannya itu untuk bisa memiliki Niken, yah. Mereka jadian.
Sedang aku, hanya bisa terpuruk meratapi penyesalanku akan rasa cinta yang bertepuk sebelah tangan ini. Hingga kini aku berusaha untuk melupakan cinta, rindu dan rasa sayangku terhadap Saka. Karena aku hanya bisa menjadi sebatas sahabatnya yang pernah hadir dalam kehidupan masa SMAnya.

Itulah Cerita Anaka SMA : Harusnya Aku, Bukan Dia Moga kalian suka jangan lupa di koment juga di share yaa
readmore »»  
Kamis, 29 November 2012

Penderitaan Itu Kembali

Jalanan yang sepi. Aku berdiri di samping jendela kamar menatap sunyinya jalan yang hanya dilalui beberapa orang yang lalu lalang. Berlari santai sambil mengirup sejuknya udara pagi, itulah yang mereka lakukan. Mereka terlihat bahagia menikmati suasana pagi bersama orang yang mereka sayangi. Jujur, aku iri melihat mereka. Sangat iri.

Sekali lagi kutatap lekat sebuah surat yang ada di genggaman tanganku. Mungkinkah ini hanya mimpi?? Atau… atau ini kenyataan?? Jika ini hanya sekedar mimpi, maka hanya satu hal yang aku inginkan. Aku ingin segera terbangun dan terlepas dari mimpi buruk ini. Hanya itu yang aku inginkan. Sesekali kutepuk pipi kanan dan pipi kiriku. Hingga aku sadar, semua ini benar-benar kenyataan.
“Sisy, kamu belum siap-siap ke sekolah? Sekrang udah pukul 06.00, Sisy.” kata mama sambil mengetuk pintu kamarku.

“Iya, mama . Tunggu sebentar.” Jawabku singkat.
Dengan berat, kugerakkan kakiku secara perlahan menuju kamar mandi. Ya, meskipun masih setengah sadar, tapi aku berusaha berjalan dengan normal. Satu jam telah berlalu, aku sudah siap lengkap dengan seragam sekolah, sepatu, tas dan perlengkapan lainnya. Kakiku yang mungil terus melangkah membawaku ke ruang makan. Papa dan mama sudah duduk menungguku dari setengah jam yang lalu.
“Gimana bobonya, Si? Nyenyak?” tanya mama.

“Nyenyak, Ma.”
“Sisy, mata kamu agak merah. Kamu abis nangis yah?”
“Ehm,,,, Nggak, Pa. Tadi kemasukan sabun pas lagi mandi, jadi merah gini deh.”
“Benar?”
“Iya, Papa.”
“Ya udah, kamu lanjut sarapannya. Ntar telat ke sekolah kalau cerita terus.”

Aku hanya tersenyum pada papa. Aku merasa senang bisa duduk dan bercanda bersama mama dan papa. Menjadi anak tunggal dari mereka membuatku bahagia dalam keluarga ini. Keluarga yang harmonis dan saling menyayangi. Cukup melihat papa dan mama tersenyum, sudah membuatku bahagia. Apalagi saat mencium mereka secara bergantian sebelum berangkat sekolah. Aku sayang mama dan papa.

“Sy, kamu nggak lagi sakit kan?” tanya Gita padaku saat aku tiba di kelas.
“Sakit..?? Nggak. Aku sehat-sehat aja kok.”
“Tapi kamu kelihatan pucat dan lemas.”
“Mungkin karena kurang tidur. Tapi ini bukan masalah besar kok.” Jawabku tenang. Aku memang merasa lemas pagi ini, bahkan semangat belajarku hilang. Saat belajar, pikiranku melayang entah kemana. Aku sendiri pun bingung dengan apa yang aku pikirkan, bahkan pagi ini sudah ada tiga guru yang menegurku karena aku sama sekali nggak fokus ke pelajaran.

“Sisy, kalau kamu lagi ada masalah, cerita aja. Kamu jangan diam-diam gini.” Kata Gita setelah bel tanda pelajaran usai siang itu.
“Gita, aku nggak lagi ada masalah.”
“Tapi, Sy..”
“Tapia apa?”
“Hari ini kamu kelihatan beda. Seperti ada yang menganggu pikiran kamu.” Ucap Gita lalu sesekali menggigit bibir bawahnya, menandakan ia agak ragu untuk bertanya.
Sambil berjalan menuju parkiran mobil, aku terus meyakinkan Gita kalau aku benar-benar tidak punya masalah hari ini.

“Jangan khawatir, Git. Aku nggak punya masalah kok.”
“Tapi….” Belum selesai Gita berbicara, aku sudah memotongnya dengan terbatuk berkali-kali. Aku langsung menutup mulutku dengan tangan kanan dan tanpa melepaskan tanganku dari mulut, aku langsung pamit pada Gita.

“Git, maaf. Kali ini aku nggak bisa ngantar kamu ke rumah. Aku buru-buru, ada urusan penting. Nggak masalah kan?”
“Nggak, Sy. Kamu hati-hati di jalan. Jangan ngebut.” Kata Gita.
Aku pun masuk ke dalam mobil dan langsung tancap gas meninggalkan Gita yang terus menatap mobil yang kukendarai hingga menghilang dari pandangannya. Perlahan kulepas tanganku dari mulut. Dan dugaanku benar, batukku tadi mengeluarkan darah. Aku tidak tahan melihatnya.

“Tuhan, apa artinya ini? Aku takut dan aku tidak mau lagi menanggung semua ini…” Aku menjerit dalam hati. Rasanya ingin langsung tiba di rumah dan mengurung diri di kamar.
Setiba di rumah, aku langsung masuk kamar. Beruntung mama dan papa lagi nggak ada di rumah, jadi mereka tidak akan melihatku dengan keadaan begini, mata yang lembab dan tangan yang berlumuran darah. Belum selesai aku membersihkan darah yang ada di tangan dan mulutku, aku kembali merasakan sakit yang luar biasa. Dadaku terasa sakit, sangat sakit, seakan ada yang mengirisnya.

“Tuhan, kenapa aku harus menderita seperti ini? Kenapa penyakit ini kambuh lagi? Kenapa….?” Aku berteriak seakan menolak semua ini. Aku tidak ingin mengulang kejadian lima tahun yang lalu…

“Anak Bapak positif mengidap kanker paru-paru. Dan sangat kecilkemungkinannya untuk dapat disembuhkan secara total karena umurnya yang masih sangat muda.”
Kalimat itu terdengar jelas di telingaku. Seorang dokter ahli kanker mengatakan hal tersebut kepada papa saat kami sedang memeriksa kondisiku yang sedang tidak sehat. Aku langsung shock mendengarnya. Bagaimana mungkin di umurku yang baru 13 tahun ini, aku sudah positif mengidap kanker paru-paru?? Aku sangat takut. Aku takut tidak akan bisa hidup lama, aku takut jauh dari mama dan papa, dan aku takut tidak akan terbangun lagi saat aku sedang tertidur pulas di atas ranjang rumah sakit.

Awalnya aku mulai batuk terus menerus, seuruh badanku terasa nyeri, dahakku pun bercampur dengan darah dan pada akhirnya dadaku terasa sangat sakit. Sangat-sangat sakit. Aku berpikir apakah aku akan meninggal saat itu juga? Tapi mama dan papa sangat menyayangiku, mereka melakukan segala cara untuk membuatku tetap bertahan hidup.

“Jangan mau kalah sama penyakit. Sisy harus bisa bertahan, harus kuat dan Tuhan tidak akan pernah ninggalin kamu.” Aku masih ingat betul kata-kata mama saat aku akan menjalani pengobatan kemoterapi. Meskipun umurku belum memungkinkan untuk menjalani kemoterapi, namun aku siap menanggung semua rasa sakitnya asalkan aku bisa sembuh.

Menjalani kemoterapi adalah penderitaan terbesar dalam hidupku. Bagaimana tidak? Kemoterapi pertama memang masih terasa normal, namun kemoterapi-kemoterapi berikutnya mulai terasa mematikan. Tubuhku seakan menolak semua obat-obatan keras yang dimasukkan ke dalam tubuhku melalui suntikan, melalui cairan infuse, dan melalui proses kemoterapi itu sendiri.

Aku meronta kesakitan, sulit bernapas, menggigil, mimisan, mual dan muntah, kulit jadi kering bahkan aku harus merelakan mahkota terindah di kepalaku rontok hingga tak ada satupun yang tersisa. Sungguh menyedihkan, aku sendiri tak kuat untuk melihat keadaanku yang seperti ini. Air mataku jatuh, apalagi ketika mama dan papa turut menangisiku. Sulit rasanya untuk menjelaskan bagaimana isi perasaanku. Namun, perjuanganku tidak sia-sia. Aku bisa sembuh dari kanker paru-paru. Ini semua berkat doa mama dan papa. Terima kasih Tuhan, aku sayang mereka.

Sekali lagi kepegang dadaku yang terasa sangat sakit.
“Tuhan, penyakit ini benar-benar kembali. Surat dari dokter yang aku terima tadi pagi ternyata benar.” Aku duduk merenung. Aku tidak ingin melihat mama dan papa menangis lagi. Sudah cukup semua penderitaan ini, aku tidak ingin mengulang semua penderitaan dengan penyakit kanker. Dan sudah aku putuskan, aku akan menyimpan rahasia ini sendiri. Kali ini aku rela kalah dari kanker asalkan orang yang aku sayangi bisa tersenyum bahagia. Mama, papa, maafin Sisy.

Satu bulan, dua bulan, dan tiga bulan berlalu. Kanker ini mulai menyebar dengan cepat. Berat badanku mulai turun, tubuhku lemas, dahakku selalu bercambur dengan darah dan dadaku terasa sangat sakit setiap hari. Namun aku bersyukur, rahasia ini masih tersimpan dengan baik, hanya aku dan Tuhan yang tahu. Entah bagaimana caraku menyembunyikannya.

Pagi ini, aku terbangun dengan cara yang aneh. Aku melangkah perlahan keluar dari kamar, keluar dari rumah dan terus berjalan ke sebuah taman yang sangat indah yang terletak tidak jauh dari rumah.
“Hari ini kamu berulang tahun kan? Jadi silakan petik satu bunga yang ada di taman ini. Ingat… hanya satu tangkai bunga saja.” kata seorang penjaga taman yang ada di taman itu. Hari ini memang hari ulang tahunku, dimana umurku genap 18 tahun.


“Sebaiknya aku mengambil dua tangkai bunga untuk mama dan papa.”
“Jangan. Kamu hanya boleh mengambil satu tangkai bunga.”
Aku jadi bingung ingin mengambil bunga warna apa. Semuanya tampak cantik, ada warna merah, putih, kuning, merah muda dan sebagainya. Namun ada satu bunga yang sangat menarik perhatianku. Bunga itu berwarna merah darah dan daunnya yang berwarna hijau layu.

“Ini bunga yang aku cari.” kataku sambil memetiknya.
Aku lalu kembali ke rumah dengan perasaan yang ringan tanpa beban. Aku bahkan sudah lupa kalau aku sedang mengidap penyakit kanker yang ganas. Rasanya sangat lega..
Namun setiba di rumah, aku melihat mama, papa dan Gita sahabatku sedang menangisi seorang gadis yang terbaring di tempat tidur. Gadis itu berpakaian sama seperti diriku.

“Mama, Papa, Gita … ini Sisy… Kenapa kalian menangisi gadis itu?” kataku sambil tetap berada di dekat pintu kamar.
“Ma... Pa… Kalian dengar Sisy kan? Ma,,, Pa,,, Gita,,,,?? Kenapa kalian nggak jawab?? Kalian dengar Sisy ngomong kan?”

Dengan agak kesal, aku lalu melangkah mendekati mereka. “Ya Tuhan..” aku kaget dan bunga yang ada digenggamanku terlepas. Gadis yang terbaring itu adalah diriku yang tak bernyawa lagi.
“Tidak… ini tidak mungkin..” aku mencoba menyentuh tangan mama, tangan papa, dan tangan Gita. Namun tanganku tidak bisa merasakan apa-apa lagi. Kini aku hanya menjadi roh yang tidak dapat dilihat manusia.

“Mama, Papa, Gita… maafin Sisy. Sisy sudah memilih bunga merah darah dengan daun hijau layu lambang kematian. Sisy sayang sama kalian. Maafin Sisy….”
**
Ayooo koment donk Cerpen Sedih - Penderitaan Itu Kembali bagaimana mneurut kalian bagaus gak , sedih gak silakan di koment aja dech hehe
readmore »»  
Rabu, 28 November 2012

Cerpen PHP (Pemberi Harapan Palsu)

Cerpen : PHP Pemberi Harapan Palsu karya LIA FAHMI ILMA kali ini dapat kiriman yang sangat keren banget dech sebuah Cerpen Cinta yang sangat nusuk banget mengapa mimin bilang demikian? karena pada masa saat ini Pemberi Harapan Palsu semakin merajalela untuk kamu yang di PHP in tenang aja ada beberapa tips menurut mimin ampuh :

  1. Jangan mudah di gombalin cowok / cewek
  2. Jangan mau di suruh nunggu
  3. Mintak kepastian
  4. Cari yang lain !
  5. Cari yang berkomitmen

Ya udah itu aja kita baca aja deh Cerpen : PHP (Pemberi Harapan Palsu) silakan menyimak hehehe eh salah selamat membaca !!

Cerpen : PHP (Pemberi Harapan Palsu)


aku duduk di pinggir kolam yang sejuk. hari itu aku sedang menunggu balasan SMS dari irfan, "ok. gw terima tawarannya" itulah SMS  dari irfan, saat itu aku merasa sangat senang ketika irfan menerima tawaranku untuk dicomblangkan dengan asya,sahabatku.

 irfan adalah teman dari kecil, bahkan bisa disebut sahabat, aku akrab dengannya karena kami saling bertetangga. awalnya, aku sering membayangkan kalau dia culun banget,, tetapi, semuanya berubah ketika aku melihatnya sangat beda dari sebelumnya, yap. kami memang berteman tapi jarang bertemu. irfan sekolah di tempat yang sangat jauh, dan jarang pulang. aku pun mulai sedih ketika mengingatnya. "Lia..Lia.." suara ibu memanggilku, aku pun menghampiri ibu dan melupakan lamunan tentang Irfan.

ibu bertanya,"kamu mau bantu ibu kan?"aku pun menjawab dengan senang hati "iya bu" "tolong kamu antarkan surat ini ke kantor pos ya", "ok.bu". aku pun mengambil kunci motor dan segera melesat ke kantor pos. tapi aku tidak menyangka, disana, aku bertemu dengan irfan. "irfaan.. ga nyangka gue bisa ketemu lo?" tanyaku, irfan pun menjawab "gue juga ga nyangka, eh gimana tentang rencana lo yg mau nyomblangin gue?" "ok. akan gue usahain, asya tertarik sama lo". aku melihat senyumnya dia sangat bahagia, begitu juga aku.

 tiga hari kemudian,aku janjian dengan irfan.kita akan bertemu di taman, rasanya ini malam yang sangat menyenangkan. akhirnya kamipun bertemu dan mengobrol panjang lebar dengan antusias. aku semakin yakin akan perasaanku, ya, aku mengaguminya, aku suka padanya, tetapi,aku harus meninggalkan perasaan itu, akusudah terlanjur mengenalkan irfan dengan asya, sahabatku sendiri yang juga menyukai irfan, aku tidak mungkin menyakiti hati sahabatku.irfan mengatakan hal yang sama berulang kali,"kalo gue ga jadi sama Asya, gue sama lo ya,Lia?" aku hanya mengalihkan pembicaraan dan aku merasa irfan hanya bercanda.

 seminggu kemudian,aku dan irfan bertemu kembali,dia membisikan kata kata ke telingaku,aku pun merasakan hembusan nafasnya yang semakin meyakinkanku untuk mencintainya. ternyata irfan tidak tertarik dengan asya, entah mengapa, aku mulai senang. dan aku juga tidak menghawatirkan asya sakit hati, karena dia juga sudah mendapatkan lelaki lain.irfan pun berpamitan untuk pulang duluan.

 besoknya, aku mengirim sms kepada irfan: "kenapa lo ga mau sama asya?". tapi irfan tidak menjawab, dan aku pun mulai sedih karenanya. tetapi, betapa terkejutnya aku ketika aku mendapat balasan dari irfan : "gue ga mau sama asya, karena gue ga kenal dia, dan gue suka sama lo" aku pun hanya bisa tertawa kecil dan menganggap ini hanya candaan. tapi ternyata aku salah.irfan mengirimkan pesan padaku:"Lia,lo dimana?gue di depan rumah lo sekarang". aku terkejut. ternyata irfan punya perasaan yang sama sepertiku. dia menembakku. aku tidak bisa berkata apa apa, aku mempertimbangkan jawaban.untunglah irfan memberiku waktu untuk berpikir.
 "gue mau balik ke sekolah,baik baik ya Lia" irfan berpamitan untuk pergi,dengan waktu yang cukup lama. aku berjanji padanya, aku akan menjawab pertanyaan cintanya jika dia kembali pulang ke rumah.


 setelah waktu yang cukup lama,irfan tidak menemuiku. aku sudah tidak sabar menantinya dan menjawab pertanyaannya.tetapi betapa terkejutnya aku ketika aku melihat pesan facebooknya, Irfan sudah kembali pada mantannya,dia sudah punya kekasih? dalam hati aku bertanya-tanya, mengapa ini terjadi? apa salahku? mengapa irfan pergi? mengapa dia mempunyai kekasih? mengapa dia menembakku? ah sial,apa aku sudah dibodohi?.

aku sedih dengan kenyataan ini, sampai sekarang, aku tidak bertemu lagi dengan irfan. aku juga tidak tau apa yang harus aku lakukan kalau nanti aku bertemu, aku sudah berjanji padanya, dia juga sudah berjanji padaku.ah sudahlah..harapanku menipis :')

Buat Temen temen  yang terjebak dengan sebuah kisah PHP - Pemberi Harapan Palsu, santai aja yaahhhh, gak harus Galauan mulu tiap malem. Trust me, lo bakal dapet yang terbaik ketika lo berusaha menjadi lebih baik. dont say Galau !! apa lagi GSM ( Galau setiap Malam) dadaaaa PHP :p.
readmore »»  
Jumat, 02 November 2012

RINDUKU YANG TAK BERTUAN

Sepi menginjak malam
Arca diri berselumut kelam
Rapuh tempat sandaran
Pada rindu yang tak bertuan
Luka bagai disayat sayat

Nafsu gelora dataran nya gersang
Sungguh sakit bila diingat
Nur hilang dari pandang
Aksaraku melayang
Kepuncak bintang gemintang
Sukmaku lelah berdiri

Menanti dan terus menanti
Malam berlalu tanpa ditemani
Suria meyongsong pagi
Tiada kalimat tiada juga ucapan
Pada rindu yang tak bertuan
readmore »»  
Minggu, 28 Oktober 2012

RBN - Tempat Diskusi Blogger Nusantara

RBN - Tempat Diskusi Blogger Nusantara merupakan sebuah groups komunitas facebook untuk para blogger yang sedang mengadakan sebuah kontes seo, saya sendiri baru disana namun saya merasa nyaman karena admin dari groups itu langsung terjun kelapangan untuk meninjau perkembangan membernya, saya berharaf dengan ini saya akan semakin betah untuk berbagi disana.


Pertama saya bergabung disana sudah senang membaca sebuah baner yang di pasang di groups itu yang berisi tulisan sebagai berikut


  • Topik yang didiskusikan mengenaik Blog, Website dan SEO.
  • dilarang Berkomentar diluar Topik Pembicaraan atau OTT ( Out Of Topic ).
  • Live link hanya diperbolehkan hari minggu ( Max 2x ).
  • diizinkan Live link untuk menjawab pertanyaan anggota lain.
  • dilarang Post yang berbagu Sara, Porno, atau OTT.
  • Ditegaskan untuk semua member untuk Berperilaku Sopan, Tidak mengejek atau menghina satu sama lain.

Jika sobat ingin bergabung di dalam kontes ini sobat di haruskan untuk memasang link sebagai berikut dengan rel dofolow


1. Grosir Sepatu Murah
2. Blog SEO
3. TOKO BAJU ONLINE MURAH
readmore »»  
Sabtu, 27 Oktober 2012

JANGAN BENCI AKU MAMA


Dua puluh tahun yang lalu saya melahirkan seorang anak laki-laki, wajahnya lumayan tampan namun terlihat agak bodoh. Sam, suamiku, memberinya nama Eric. Semakin lama semakin nampak jelas bahwa anak ini memang agak terbelakang. Saya berniat memberikannya kepada orang lain saja untuk dijadikan budak atau pelayan. Namun Sam mencegah niat buruk itu. Akhirnya terpaksa saya membesarkannya juga. Di tahun kedua setelah Eric dilahirkan saya pun melahirkan kembali seorang anak perempuan yang cantik mungil. Saya menamainya Angelica. Saya sangat menyayangi Angelica, demikian juga Sam. Seringkali kami mengajaknya pergi ke taman hiburan dan membelikannya pakaian anak-anak yang indah-indah. Namun tidak demikian halnya dengan Eric. Ia hanya memiliki beberapa stel pakaian butut. Sam berniat membelikannya, namun saya selalu melarangnya dengan dalih penghematan uang keluarga. Sam selalu menuruti perkataan saya.
Saat usia Angelica 2 tahun Sam meninggal dunia. Eric sudah berumur 4 tahun kala itu. Keluarga kami menjadi semakin miskin dengan hutang yang semakin menumpuk. Akhirnya saya mengambil tindakan yang akan membuat saya menyesal seumur hidup. Saya pergi meninggalkan kampung kelahiran saya beserta Angelica. Eric yang sedang tertidur lelap saya tinggalkan begitu saja. Kemudian saya tinggal di sebuah gubuk setelah rumah kami laku terjual untuk membayar hutang. Setahun, 2 tahun, 5 tahun, 10 tahun.. telah berlalu sejak kejadian itu.

Saya telah menikah kembali dengan Brad, seorang pria dewasa. Usia Pernikahan kami telah menginjak tahun kelima. Berkat Brad, sifat-sifat buruk saya yang semula pemarah, egois, dan tinggi hati, berubah sedikit demi sedikit menjadi lebih sabar dan penyayang. Angelica telah berumur 12 tahun dan kami menyekolahkan dia di asrama putri sekolah perawatan. Tidak ada lagi yang ingat tentang Eric dan tidak ada lagi yang mengingatnya.

Sampai suatu malam. Malam di mana saya bermimpi tentang seorang anak. Wajahnya agak tampan namun tampak pucat sekali. Ia melihat ke arah saya. Sambil tersenyum ia berkata, “Tante, Tante kenal mama saya? Saya lindu cekali pada Mommy!” Setelah berkata demikian ia mulai beranjak pergi, namun saya menahannya, “Tunggu…, sepertinya saya mengenalmu.
Siapa namamu anak manis?”
“Nama saya Elic, Tante.”
“Eric? Eric… Ya Tuhan! Kau benar-benar Eric?”
Saya langsung tersentak dan bangun. Rasa bersalah, sesal dan berbagai perasaan aneh lainnya menerpa diri saya saat itu juga. Tiba-tiba terlintas kembali kisah ironis yang terjadi dulu seperti sebuah film yang diputar dikepala saya. Baru sekarang saya menyadari betapa jahatnya perbuatan saya dulu.Rasanya seperti mau mati saja saat itu. Ya, saya harus mati…, mati…, mati… Ketika tinggal seinchi jarak pisau yang akan saya goreskan ke pergelangan tangan, tiba-tiba bayangan Eric melintas kembali di pikiran saya. Ya Eric, Mommy akan menjemputmu Eric…
Sore itu saya memarkir mobil biru saya di samping sebuah gubuk, dan Brad dengan pandangan heran menatap saya dari samping.
“Mary, apa yang sebenarnya terjadi?”
“Oh, Brad, kau pasti akan membenciku setelah saya menceritakan hal yang telah saya lakukan dulu.” Tapi aku menceritakannya juga dengan terisak-isak. ..
Ternyata Tuhan sungguh baik kepada saya. Ia telah memberikan suami yang begitu baik dan penuh pengertian. Setelah tangissaya reda, saya keluar dari mobil diikuti oleh Brad dari belakang. Mata saya menatap lekat pada gubuk yang terbentang dua meter dari hadapan saya. Saya mulai teringat betapa gubuk itu pernah saya tinggali beberapa bulan lamanya dan Eric.. Eric… Saya meninggalkan Eric di sana 10 tahun yang lalu. Dengan perasaan sedih saya berlari menghampiri gubuk tersebut dan membuka pintu yang terbuat dari bambu itu. Gelap sekali… Tidak terlihat sesuatu apa pun! Perlahan mata saya mulai terbiasa dengan kegelapan dalam ruangan kecil itu. Namun saya tidak menemukan siapapun juga di dalamnya. Hanya ada sepotong kain butut tergeletak di lantai tanah.
Saya mengambil seraya mengamatinya dengan seksama… Mata mulai berkaca-kaca, saya mengenali potongan kain tersebut sebagai bekas baju butut yang dulu dikenakan Eric sehari-harinya. .. Beberapa saat kemudian, dengan perasaan yang sulit dilukiskan, saya pun keluar dari ruangan itu… Air mata saya mengalir
dengan deras. Saat itu saya hanya diam saja. Sesaat kemudian saya dan Brad mulai menaiki mobil untuk meninggalkan tempat tersebut. Namun, saya melihat seseorang di belakang mobil kami. Saya sempat kaget sebab suasana saat itu gelap sekali. Kemudian terlihatlah wajah orang itu yang demikian kotor. Ternyata ia seorang wanita tua. Kembali saya tersentak kaget manakala ia tiba-tiba menegur saya dengan suaranya yang parau.
“Heii…! Siapa kamu?! Mau apa kau kemari?!”
Dengan memberanikan diri, saya pun bertanya, “Ibu, apa ibu kenal dengan seorang anak bernama Eric yang dulu tinggal di sini?” Ia menjawab, “Kalau kamu ibunya, kamu sungguh perempuan terkutuk! Tahukah kamu, 10 tahun yang lalu sejak kamu meninggalkannya di sini, Eric terus menunggu ibunya dan memanggil, ‘Mommy…, mommy!’ Karena tidak tega, saya terkadang memberinya makan dan mengajaknya tinggal Bersama saya. Walaupun saya orang miskin dan hanya bekerja sebagai pemulung sampah, namun saya tidak akan meninggalkan anak saya seperti itu! Tiga bulan yang lalu Eric meninggalkan secarik kertas ini. Ia belajar menulis setiap hari selama bertahun-tahun hanya untuk menulis ini untukmu…”
Saya pun membaca tulisan di kertas itu…
“Mommy, mengapa Mommy tidak pernah kembali lagi…?
Mommy marah sama Eric, ya? Mom, biarlah Eric yang pergi saja, tapi Mommy harus berjanji kalau Mommy tidak akan marah lagi sama Eric. Bye, Mom…” Saya menjerit histeris membaca surat itu.
“Bu, tolong katakan… katakan di mana ia sekarang? Saya berjanji akan meyayanginya sekarang! Saya tidak akan meninggalkannya lagi, Bu! Tolong katakan..!!”
Brad memeluk tubuh saya yang bergetar keras.
“Nyonya, semua sudah terlambat. Sehari sebelum nyonya datang, Eric telah meninggal dunia. Ia meninggal di belakang gubuk ini. Tubuhnya sangat kurus, ia sangat lemah. Hanya demi menunggumu ia rela bertahan di belakang gubuk ini tanpa ia berani masuk ke dalamnya. Ia takut apabila Mommy-nya datang, Mommy-nya akan pergi lagi bila melihatnya ada di dalam sana … Ia hanya berharap dapat melihat Mommy-nya dari belakang gubuk ini… Meskipun hujan deras, dengan kondisinya yang lemah ia terus bersikeras menunggu Nyonya di sana .
Nyonya,dosa anda tidak terampuni!”
Saya kemudian pingsan dan tidak ingat apa-apa lagi.
readmore »»  
Jumat, 19 Oktober 2012

Persahabatan sulit dijelaskan

Persahabatan sulit dijelaskan dan tidak pernah dipelajari di sekolah.
Namun, jika seseorang tidak berusaha mempelajari makna persahabatan, dia tidak dapat mempelajari apa-apa..

♥ “Sahabat layaknya pelangi yang
mencerahkan hidupmu setelah kau
berhasil melewati badai” ..

♥ “Sahabat layaknya dinding.
Kadang kau bersandar di sana, dan
kadang cukup mengetahui bahwa ia
selalu ada di sana.” ..
♥ “Sahabat adalah dia yang tahu
kekuranganmu, tapi menunjukkan
kelebihanmu. Dia yang tahu
ketakutanmu, tapi menunjukkan
keberanianmu” ..

♥ “Sahabat adalah dia yang tahu
apa yang dia miliki ketika bersamamu,
bukan dia yang menyadari siapa
dirimu setelah dia kehilanganmu.” ..

♥ “Sahabat sejati ialah orang yang
mencintaimu meskipun telah
mengenalmu dengan sebenar-
benarny a iaitu baik dan
burukmu” ..

♥ “Sahabat yang baik adalah orang
yg sangat kita percayai dan membuat
kita tenang bersamanya. Dia menjadi
tempat berbagi kelelahan, berbagi
kesedihan dan tidak pernah menjual
rahasia diri kita” ..

“Jangan hianati dia! karena
dialah yg slalu ada sbgai
penggantimu, karena dia
sahabatmu!”

Persahabatan diwarnai dengan
berbagai pengalaman suka dan duka,
dihibur-disakit i, diperhatikan-di
kecewakan, didengar-diabai kan,
dibantu-ditolak , namun semua ini
tidak pernah sengaja dilakukan
dengan tujuan kebencian”

Teman itu seperti bintang Tak
selalu nampak Tapi selalu ada dihati,
Sahabat akan selalu menghampiri
ketika seluruh dunia menjauh Karena
persahabatan itu seperti tangan
dengan mata Saat tangan terluka,
mata menangis Saat mata menangis,
tangan menghapusnya”

Sahabat..., “Jangan
banggakan apa yang kamu punya.
Banggakan bagaimana caramu
mendapatkan apa yang kamu punya.
Lakukan apapun yang kamu suka.
Karena kamu tak akan merasa
terpaksa,dan jika kamu gagal tak
akan merasa kecewa.”
.
•☆☆¸•PERSAHABATAN•☆☆¸.•
readmore »»  
Sabtu, 13 Oktober 2012

Bukan hanya kata kata

Bukan hanya kata kata saja
Sepenuh cinta datang padaku
Semua rasa yang sedang kurasakani
Terasa sejuknya
Tiada jemu terus dan terus
membaca
Selama mulutku masih berucap
Selama itu ku membaca ayat-Mu
Selama darahku masih mengalir
Amalan ayat-Mu tak pernah
berakhir
Semuanya akan ku baca
Tanpa ada keraguanku
Semuanya membuat hidup ini
Semakin bermakna
Tiada ragu untuk amalkan ayat-Mu
Tiada lelah dan tiada berhenti
Ikuti jalan-Mu
readmore »»  
Senin, 08 Oktober 2012

Sebuah Cerita Seorang Ahli Ibadah Yang Menyusuri Lautan

Abdul Wahid bin Ziyad menceritakan,

Kami berada dalam sebuah perahu, lalu kami terlempar oleh angin hingga sampai di sebuah pulau. Kami mendapati seorang laki-laki yang menyembah berhala di pulau itu, maka kami bertanya kepadanya,

‘Kepada siapa kamu menyembah?’ Dia menunjuk kepada sebuah berhala. Kemudian kami berkata,

‘Sesungguhnya ada benda seperti ini dalam perahu kami. Benda (berhala) ini bukanlah tuhan yang patut disembah.’ laki-laki itu balik bertanya,

‘Lalu, kepada siapa kalian menyembah?’

‘Allah.’

‘Siapa Allah itu?’

‘Dzat Yang singgasana-Nya ada di langit, Dzat Yang kekuasaan-Nya ada di bumi, dan Dzat yang kehidupan serta kematian adalah menjadi ketentuan-Nya.’

‘Bagaimana kalian bisa mengetahui dan mengenal-Nya?’

‘Dzat Yang Mahadiraja ini mengirim seorang Rasul kepada kami, lalu Rasul itu mengabarkan kami akan hal itu.’

‘Lantas bagaimana keadaan Rasul itu?’

‘Ketika beliau melaksanakan misinya, Allah mencabut nyawanya.’

‘Apakah dia meninggalkan satu tanda untuk kalian?’

‘Ya, beliau meninggalkan kitab Yang Maha Menguasai.’

‘Tunjukkanlah kitab itu kepadaku. Sudah sepatutnya bila kitab-kitab yang Maha Menguasai adalah indah dan baik.’ Kami pun menyodorkan mushaf Al-Quran kepadanya, lalu dia berkata,

‘Aku tidak tahu ini.’ Kemudian kami membacakan satu surat Al-Quran untuknya. Kami terus membacanya, dan dia menangis hingga kami selesai membaca satu surat itu. Lantas dia berucap,

‘Tidak seharusnya pemilik firman ini didurhakai.’ Setelah itu dia menyatakan diri untuk masuk Islam. Kami membawanya bersama kami, lalu mengajarkan syariat-syariat Islam dan beberapa surat Al-Quran kepadanya. Ketika malam telah gelap, dan kami usai melaksanakan shalat isya, kami bersiap-siap di pembaringan kami, lalu laki-laki itu bertanya,

‘Wahai kaum, apakah Tuhan yang telah kalian tunjukkan kepadaku ini akan tidur ketika malam telah gelap?’ Kami menjawab,

‘Tidak, wahai hamba Allah. Dia Maha Agung, terus menerus mengurus(makhluk-Nya), Dia tidak pernah tidur.’

‘Seburuk-buruk kaum adalah kalian. Kalian tidur, sedang Tuhan kalian tidak pernah tidur.’ Sungguh ucapannya membuat kami kagum! Saat kami sampai di Ubadan, aku berkata kepada teman-temanku,

‘Laki-laki ini baru mengetahui Islam .’ Kami pun mengumpulkan uang, lalu kami memberikan uang itu kepadanya. Laki-laki itu kembali bertanya,

‘Apa ini?’

‘Kamu akan membelanjakan uang itu.’

‘Tiada Tuhan yang patut disembah melainkan Allah! Kalian telah menunjukkan jalan yang telah kalian tempuh kepadaku. Dahulu aku berada di sebuah pulau di tengah-tengah lautan dalam keadaan menyembah berhala. Dia tidak menyia-nyiakan aku, sedang aku akan mengenali-Nya.’ Beberapa hari kemudian aku mendengar bahwa dia dalam keadaan menghadapi maut. Maka aku mendatangi dan bertanya kepadanya,

‘Apakah ada sesuatu yang bisa aku lakukan untukmu?’

‘Semua kebutuhan telah ditunaikan oleh orang-orang kalian yang datang ke pulauku,’ jawabnya.”

Abdul Wahid meneruskan ceritanya, “Mataku terpejam, aku tertidur di sampingnya. Aku melihat pemakaman kota Ubadan menjadi kebun yang di dalamnya terdapat sebuah kubah. Di dalam kubah itu ada tempat tidur (ranjang) dan seorang wanita yang kecantikannya tiada duanya. Aku pun bergumam,

‘Demi Allah, aku tidak memohon kepada-Mu, melainkan agar Engkau segerakan dia, sungguh rasa rinduku kepadanya telah membuncah.’ Lalu aku terbangun, aku mendapatinya telah meninggalkan dunia ini. Aku pun memandikan, mengkafani, dan menguburkannya. Ketika malam telah larut, aku tidur dan melihatnya di kubah itu bersama seorang wanita cantik. Dia membaca ayat,

“Sedang malaikat-malaikat masuk ke tempat-tempat mereka dari semua pintu; (sambil mengucapkan): “Salamun ‘alaikum bima shabartum”. Maka alangkah baiknya tempat kesudahan itu.” (QS. Ar-Ra’du: 23-24)[1]

Dikutip dari “Belaian Bidadari di Alam Mimpi”

penulis Syaikh ‘Isham Hasanain
readmore »»  
Sabtu, 06 Oktober 2012

Kisah Kasih Sayang Ibunda

Alkisah di sebuah desa, ada seorang ibu yang sudah tua, hidup berdua dengan anak satu-satunya Suaminya sudah lama meninggal karena sakit Sang ibu sering kali merasa sedih memikirkan anak satu-satunya. Anaknya mempunyai tabiat yang sangat buruk yaitu suka mencuri, berjudi, mengadu ayam dan banyak lagi.

Ibu itu sering menangis meratapi nasibnya yang malang, Namun ia sering berdoa memohon kepada Tuhan: “Tuhan tolong sadarkan anakku yang kusayangi, supaya tidak berbuat dosa lagi

Aku sudah tua dan ingin menyaksikan dia bertobat sebelum aku mati”

Namun semakin lama si anak semakin larut dengan perbuatan jahatnya, sudah sangat sering ia keluar masuk penjara karena kejahatan yang dilakukannya. Suatu hari ia kembali mencuri di rumah penduduk desa, namun malang dia tertangkap Kemudian dia dibawa ke hadapan raja utk diadili dan dijatuhi hukuman pancung pengumuman itu diumumkan ke seluruh desa, hukuman akan dilakukan keesokan hari di depan rakyat desa dan tepat pada saat lonceng berdentang menandakan pukul enam pagi

Berita hukuman itu sampai ke telinga si ibu dia menangis meratapi anak yang dikasihinya dan berdoa berlutut kepada Tuhan “Tuhan ampuni anak hamba, biarlah hamba yang sudah tua ini yang menanggung dosa nya”


Dengan tertatih tatih dia mendatangi raja dan memohon supaya anaknya dibebaskan
Tapi keputusan sudah bulat, anakknya harus menjalani hukuman

Dengan hati hancur, ibu kembali ke rumah Tak hentinya dia berdoa supaya anaknya diampuni, dan akhirnya dia tertidur karena kelelahan Dan dalam mimpinya dia bertemu dengan Tuhan

Keesokan harinya, ditempat yang sudah ditentukan, rakyat berbondong2 manyaksikan hukuman tersebut Sang algojo sudah siap dengan pancungnya dan anak sudah pasrah dengan nasibnya

Terbayang di matanya wajah ibunya yang sudah tua, dan tanpa terasa ia menangis menyesali perbuatannya Detik-detik yang dinantikan akhirnya tiba. Sampai waktu yang ditentukan tiba, lonceng belum juga berdentang sudah lewat lima menit dan suasana mulai berisik, akhirnya petugas yang bertugas membunyikan lonceng datang

Ia mengaku heran karena sudah sejak tadi dia menarik tali lonceng tapi suara dentangnya tidak ada. Saat mereka semua sedang bingung, tiba2 dari tali lonceng itu mengalir darah Darah itu berasal dari atas tempat di mana lonceng itu diikat. Dengan jantung berdebar2 seluruh rakyat menantikan saat beberapa orang naik ke atas menyelidiki sumber darah

Tahukah anda apa yang terjadi?
Ternyata di dalam lonceng ditemui tubuh si ibu tua dengan kepala hancur berlumuran darah. dia memeluk bandul di dalam lonceng yang menyebabkan lonceng tidak berbunyi, dan sebagai gantinya, kepalanya yang terbentur di dinding lonceng

Seluruh orang yang menyaksikan kejadian itu tertunduk dan meneteskan air mata. Sementara si anak meraung raung memeluk tubuh ibunya yang sudah diturunkan. Menyesali dirinya yang selalu menyusahkan ibunya Ternyata malam sebelumnya si ibu dengan susah payah memanjat ke atas dan mengikat dirinya di lonceng Memeluk besi dalam lonceng untuk menghindari hukuman pancung anaknya
readmore »»  
Jumat, 05 Oktober 2012

Saat Indah Dulu Tidak Akan Pernah Terulang Lagi

Dulu,
karnamu aku tau apa itu pengorbanan.
Karnamu aku tau arti cinta sesungguh.a.
Tapi karnamu pula aku merasakan sakit yang tag bisa aku jelaskan.
karnamu pula aku takud untuk jatuh cinta lagi.

Walau demikian.
Kau pernah menjadi oank yang berarti dalam hidupku.
Aku bahagia pernah memilikimu,
karna kau satu".a pacar yang perhatian dan bisa menerima kekuranganku.
Meski kini mungkin bagimu aku hanyalah seorang musuh yang tag berarti dan harus terpisahkan oleh jarakk.

Tapi percayalah,,
kenangan yang pernah kita lewati ngga' akan pernah akku lupain.
Thanks karna uda pernah mengisi hari"ku.:)

Rasa.a gaakan mungkin ada pengganti sepertimu.:'(
readmore »»  
Rabu, 03 Oktober 2012

Kasih Sepanjang Jalan

Di stasiun kereta api bawah tanah Tokyo, aku merapatkan mantel wol tebalku erat-erat. Pukul 5 pagi. Musim dingin yang hebat. Udara terasa beku mengigit. Januari ini memang terasa lebih dingin dari tahun-tahun sebelumnya. Di luar salju masih turun dengan lebat sejak kemarin. Tokyo tahun ini terselimuti salju tebal, memutihkan segenap pemandangan.
Stasiun yang selalu ramai ini agak sepi karena hari masih pagi. Ada seorang kakek tua di ujung kursi, melenggut menahan kantuk. Aku melangkah perlahan ke arah mesin minuman. Sesaat setelah sekeping uang logam aku masukkan, sekaleng capucino hangat berpindah ke tanganku. Kopi itu sejenak menghangatkan tubuhku, tapi tak lama karena ketika tanganku menyentuh kartu pos di saku mantel, kembali aku berdebar.
Tiga hari yang lalu kartu pos ini tiba di apartemenku. Tidak banyak beritanya, hanya sebuah pesan singkat yang dikirim adikku, "Ibu sakit keras dan ingin sekali bertemu kakak. Kalau kakak tidak ingin menyesal, pulanglah meski sebentar, kak�c". Aku mengeluh perlahan membuang sesal yang bertumpuk di dada. Kartu pos ini dikirim Asih setelah beberapa kali ia menelponku tapi aku tak begitu menggubris ceritanya. Mungkin ia bosan, hingga akhirnya hanya kartu ini yang dikirimnya. Ah, waktu seperti bergerak lamban, aku ingin segera tiba di rumah, tiba-tiba rinduku pada ibu tak tertahan. Tuhan, beri aku waktu, aku tak ingin menyesal�c
Sebenarnya aku sendiri masih tak punya waktu untuk pulang. Kesibukanku bekerja di sebuah perusahaan swasta di kawasan Yokohama, ditambah lagi mengurus dua puteri remajaku, membuat aku seperti tenggelam dalam kesibukan di negeri sakura ini. Inipun aku pulang setelah kemarin menyelesaikan sedikit urusan pekerjaan di Tokyo. Lagi-lagi urusan pekerjaan.
Sudah hampir dua puluh tahun aku menetap di Jepang. Tepatnya sejak aku menikah dengan Emura, pria Jepang yang aku kenal di Yogyakarta, kota kelahiranku. Pada saat itu Emura sendiri memang sedang di Yogya dalam rangka urusan kerjanya. Setahun setelah perkenalan itu, kami menikah.
Masih tergambar jelas dalam ingatanku wajah ibu yang menjadi murung ketika aku mengungkapkan rencana pernikahan itu. Ibu meragukan kebahagiaanku kelak menikah dengan pria asing ini. Karena tentu saja begitu banyak perbedaan budaya yang ada diantara kami, dan tentu saja ibu sedih karena aku harus berpisah dengan keluarga untuk mengikuti Emura. Saat itu aku berkeras dan tak terlalu menggubris kekhawatiran ibu.
Pada akhirnya memang benar kata ibu, tidak mudah menjadi istri orang asing. Di awal pernikahan begitu banyak pengorbanan yang harus aku keluarkan dalam rangka adaptasi, demi keutuhan rumah tangga. Hampir saja biduk rumah tangga tak bisa kami pertahankan. Ketika semua hampir karam, Ibu banyak membantu kami dengan nasehat-nasehatnya. Akhirnya kami memang bisa sejalan. Emura juga pada dasarnya baik dan penyayang, tidak banyak tuntutan.
Namun ada satu kecemasan ibu yang tak terelakkan, perpisahan. Sejak menikah aku mengikuti Emura ke negaranya. Aku sendiri memang sangat kesepian diawal masa jauh dari keluarga, terutama ibu, tapi kesibukan mengurus rumah tangga mengalihkan perasaanku. Ketika anak-anak beranjak remaja, aku juga mulai bekerja untuk membunuh waktu.
Aku tersentak ketika mendengar pemberitahuan kereta Narita Expres yang aku tunggu akan segera tiba. Waktu seperti terus memburu, sementara dingin semakin membuatku menggigil. Sesaat setelah melompat ke dalam kereta aku bernafas lega. Udara hangat dalam kereta mencairkan sedikit kedinginanku. Tidak semua kursi terisi di kereta ini dan hampir semua penumpang terlihat tidur. Setelah menemukan nomor kursi dan melonggarkan ikatan syal tebal yang melilit di leher, aku merebahkan tubuh yang penat dan berharap bisa tidur sejenak seperti mereka. Tapi ternyata tidak, kenangan masa lalu yang terputus tadi mendadak kembali berputar dalam ingatanku.
Ibu..ya betapa kusadari kini sudah hampir empat tahun aku tak bertemu dengannya. Di tengah kesibukan, waktu terasa cepat sekali berputar. Terakhir ketika aku pulang menemani puteriku, Rikako dan Yuka, liburan musim panas. Hanya dua minggu di sana, itupun aku masih disibukkan dengan urusan kantor yang cabangnya ada di Jakarta. Selama ini aku pikir ibu cukup bahagia dengan uang kiriman ku yang teratur setiap bulan. Selama ini aku pikir materi cukup untuk menggantikan semuanya. Mendadak mataku terasa panas, ada perih yang menyesakkan dadaku. "Aku pulang bu, maafkan keteledoranku selama ini�c" bisikku perlahan.
Cahaya matahari pagi meremang. Kereta api yang melesat cepat seperti peluru ini masih terasa lamban untukku. Betapa masih jauh jarak yang terentang. Aku menatap ke luar. Salju yang masih saja turun menghalangi pandanganku. Tumpukan salju memutihkan segenap penjuru. Tiba-tiba aku teringat Yuka puteri sulungku yang duduk di bangku SMA kelas dua. Bisa dikatakan ia tak berbeda dengan remaja lainnya di Jepang ini. Meski tak terjerumus sepenuhnya pada kehidupan bebas remaja kota besar, tapi Yuka sangat ekspresif dan semaunya. Tak jarang kami berbeda pendapat tentang banyak hal, tentang norma-norma pergaulan atau bagaimana sopan santun terhadap orang tua.
Aku sering protes kalau Yuka pergi lama dengan teman-temannya tanpa idzin padaku atau papanya. Karena aku dibuat menderita dan gelisah tak karuan dibuatnya. Terus terang kehidupan remaja Jepang yang kian bebas membuatku khawatir sekali. Tapi menurut Yuka hal itu biasa, pamit atau selalu lapor padaku dimana dia berada, menurutnya membuat ia stres saja. Ia ingin aku mempercayainya dan memberikan kebebasan padanya. Menurutnya ia akan menjaga diri dengan sebaik-baiknya. Untuk menghindari pertengkaran semakin hebat, aku mengalah meski akhirnya sering memendam gelisah.
Riko juga begitu, sering ia tak menggubris nasehatku, asyik dengan urusan sekolah dan teman-temannya. Papanya tak banyak komentar. Dia sempat bilang mungkin itu karena kesalahanku juga yang kurang menyediakan waktu buat mereka karena kesibukan bekerja. Mereka jadi seperti tidak membutuhkan mamanya. Tapi aku berdalih justru aku bekerja karena sepi di rumah akibat anak-anak yang berangkat dewasa dan jarang di rumah. Dulupun aku bekerja ketika si bungsu Riko telah menamatkan SD nya. Namun memang dalam hati ku akui, aku kurang bisa membagi waktu antara kerja dan keluarga.
Melihat anak-anak yang cenderung semaunya, aku frustasi juga, tapi akhirnya aku alihkan dengan semakin menenggelamkan diri dalam kesibukan kerja. Aku jadi teringat masa remajaku. Betapa ku ingat kini, diantara ke lima anak ibu, hanya aku yang paling sering tidak mengikuti anjurannya. Aku menyesal. Sekarang aku bisa merasakan bagaimana perasaan ibu ketika aku mengabaikan kata-katanya, tentu sama dengan sedih yang aku rasakan ketika Yuka jatau Riko juga sering mengabaikanku. Sekarang aku menyadari dan menyesali semuanya. Tentu sikap kedua puteri ku adalah peringatan yang Allah berikan atas keteledoranku dimasa lalu. Aku ingin mencium tangan ibu....
Di luar salju semakin tebal, semakin aku tak bisa melihat pemandangan, semua menjadi kabur tersaput butiran salju yang putih. Juga semakin kabur oleh rinai air mataku. Tergambar lagi dalam benakku, saat setiap sore ibu mengingatkan kami kalau tidak pergi mengaji ke surau. Ibu sendiri sangat taat beribadah. Melihat ibu khusu' tahajud di tengah malam atau berkali-kali mengkhatamkan alqur'an adalah pemandangan biasa buatku. Ah..teringat ibu semakin tak tahan aku menanggung rindu. Entah sudah berapa kali kutengok arloji dipergelangan tangan.
Akhirnya setelah menyelesaikan semua urusan boarding-pass di bandara Narita, aku harus bersabar lagi di pesawat. Tujuh jam perjalanan bukan waktu yang sebentar buat yang sedang memburu waktu seperti aku. Senyum ibu seperti terus mengikutiku. Syukurlah, Window-seat, no smoking area, membuat aku sedikit bernafas lega, paling tidak untuk menutupi kegelisahanku pada penumpang lain dan untuk berdzikir menghapus sesak yang memenuhi dada. Melayang-layang di atas samudera fasifik sambil berdzikir memohon ampunan-Nya membuat aku sedikit tenang. Gumpalan awan putih di luar seperti gumpalan-gumpalan rindu pada ibu.
Yogya belum banyak berubah. Semuanya masih seperti dulu ketika terakhir aku meninggalkannya. Kembali ke Yogya seperti kembali ke masa lalu. Kota ini memendam semua kenanganku. Melewati jalan-jalan yang dulu selalu aku lalui, seperti menarikku ke masa-masa silam itu. Kota ini telah membesarkanku, maka tak terbilang banyaknya kenangan didalamnya. Terutama kenangan-kenangan manis bersama ibu yang selalu mewarnai semua hari-hariku. Teringat itu, semakin tak sabar aku untuk bertemu ibu.
Rumah berhalaman besar itu seperti tidak lapuk dimakan waktu, rasanya masih seperti ketika aku kecil dan berlari-lari diantara tanaman-tanaman itu, tentu karena selama ini ibu rajin merawatnya. Namun ada satu yang berubah, ibu...
Wajah ibu masih teduh dan bijak seperti dulu, meski usia telah senja tapi ibu tidak terlihat tua, hanya saja ibu terbaring lemah tidak berdaya, tidak sesegar biasanya. Aku berlutut disisi pembaringannya, "Ibu...Rini datang, bu..", gemetar bibirku memanggilnya. Ku raih tangan ibu perlahan dan mendekapnya didadaku. Ketika kucium tangannya, butiran air mataku membasahinya. Perlahan mata ibu terbuka dan senyum ibu, senyum yang aku rindu itu, mengukir di wajahnya. Setelah itu entah berapa lama kami berpelukan melepas rindu. Ibu mengusap rambutku, pipinya basah oleh air mata. Dari matanya aku tahu ibu juga menyimpan derita yang sama, rindu pada anaknya yang telah sekian lama tidak berjumpa. "Maafkan Rini, Bu.." ucapku berkali-kali, betapa kini aku menyadari semua kekeliruanku selama ini.
readmore »»  
Selasa, 02 Oktober 2012

Arti Dan Sebuah Cinta

Aku duduk bersandar dan aku merasa lemah sekali…., dan tidak tahu lagi harus berbuat apa untuk membuktikan sebuah angan yang menjadi beban dalam kebisingan otakku, aku tak tahu lagi bagaimana aku membuktikan apa yang kurasa pada dirimu, dirimu bagaikan batu yang harus kutembus dengan tetesan air sedikit demi sedikit,….. dan akankan diriku mampu menerimamu apa adanya…… ?
Aku sadar siapakah diriku,… sungguh aku tak pantas untuk mendapatkan cinta dari seorang yahya, seorang putra dari seorang ahli ibadah dan tersohor di negeri ini, gagah rupawan dan tak terbesit pun kekurangan dari dirinya. Sedangkan diriku … hanyalah seorang pemuas hasrat lelaki yang mendambakan kehangatan sesaat. Bukan aku tidak memiliki rasa mencintai untuknya dan bukan pula sebuah batu yang hendak ia runtuhkan sekalipun, aku hanya berpikir bagaimana ia kelak menjawab seluruh pandangan orang disekitarnya akan keberadaanku, oh.. tuhan.. mengapa cinta ini Engkau anugerahkan diantara kami, apakah ini yang memang Engkau harapkan terhadap kami…?
Izza namaku, hidupku berantakan sejak aku menjadi korban trafficking, saat itu aku masih 16 tahun. Disebuah terminal segerombolan laki – laki mendekati dan menyekapku, aku tak berdaya dibuatnya dibawalah aku dalam sebuah ruang yang kosong, sepi dan tampak berantakan. Aku dibuatnya layaknya boneka yang mereka lakukan dengan bergiliran dan mereka memperkosaku. Hancur rasanya kala itu aku bagaikan mati tak memiliki rasa apapun.
Haripun berganti, aku dijual pada seorang wanita paruhbaya dan kemudian aku dipekerjakan sebagai seorang wanita penghibur disebuah klub malam. Tak terasa sudah 5 tahun aku bekerja dan kini usiaku sudah 21 tahun. Suatu awal kisah cinta ini terjadi, datanglah padaku sesosok pria tampan dengan wajah yang menampakkan kesedihan diraut wajahnya. ‘ mbak temani aku untuk sesaat ‘ itulah kata yang pertama keluar dari mulutnya, ‘ aku mencari seseorang yang bisa menjawab kegelisahanku, dimanakah aku menemukan belahan jiwaku yang membuatku tentram ? … aku kemari bukan untuk kesenangan, terkadang sebuah jawaban datangnya dari sesuatu yang tak pernah kita sangka..’ kemudian aku menoleh dan menatap wajahnya dengan tatapan tajam, dan aku bertanya ‘ apakah yang engkau pikirkan ..? ‘ dan ia menjawab ‘ ayahku yang sangat kuhormati mengharapkan seorang keturunan, dan aku tak mampu memenuhinya karena tak satupun wanita yang kukenal mampu meruntuhkan hatiku, dimanakah aku bisa mendapatkan cinta …?’, kemudian aku menjawab ‘ bersahabatlah kamu karena Allah dan mencintailah kamu karena Allah, bila kamu mencintai sesorang berdasar pada hasrat maka cinta itu adalah palsu’
Aku terperangah mendapatkan jawaban diluar dugaanku,… siapakah dia ?… sehingga mampu memberikan jawaban yang sangat mendalam. Izza kau membuat aku bertambah payah, jawaban yang kau berikan membuatku semakin menggila dengan anganku sendiri. Dan sejak saat itu aku semakin sering mengunjunginya dan membuatku semakin akrab dengannya. Pemikiran yang luas jiwa yang lapang ternyata itulah yang kuharapkan dan itu terdapat dalam diri izza.
Dan suatu ketika hujan yang lebat anginpun sangat kencang aku duduk bersandar dibawah sebuah pohon dengannya, saat itu pula aku menyatakan bahwa selama ini aku larut dalam jiwa izza, ‘ izza tak kusangka ternyata kau mampu membuatku hanyut, kini aku sadar bahwa beginilah rasa mencintai dan maukah kau menjadikan aku sebagai teman hidupmu…? tak terucap pun kata dari bibirnya, matanya memerah dan keluarlah air itu dari matanya yang manis. Tak lama ia berucap ‘ tak sadarkah apa yang kau ucapkan ?… ” lalu ia pergi entah kemana dan tak ingin aku mengikutinya.
Dua minggu aku tak bertemu dengan izza pikiranku melayang menahan semua kerinduan yang membuat dada ini semakin sesak, ketika hari menjelang sore aku duduk disebuah taman depan rumahku. Dari kejauhan aku melihat seseorang mendekati rumahku, aku terperangah saat aku tahu siapa dia dengan lekas aku meloncat dari tempat dudukku dan menghampirinya ‘ izza apakah yang membuatmu datang kemari ?.. ‘ sesaat ia terdiam lalu berkata ‘ tak sadarkah kau apa yang kurasakan, aku tak mampu membohongi diriku aku tak mampu selalu berpaling darimu… aku mencintaimu…’ aku seolah tak percaya apa yang ia katakan tak sadar aku sudah memeluk dirinya erat dan tak terasa aku air mata pun jatuh….
Dan kuperkenalkan ia dengan orang tua dan saudaraku akan kehadiranya dan hubungan ini, tak butuh waktu lama orang tuaku shock mendengar kejujuranku… seolah ia tak menerima kenyataan yang terjadi. Setelah segelas air ia habiskan lalu ayahku berkata ‘ tak satupun kejadian didunia ini yang luput dari kehendakNya , anakku jagalah, rawatlah bakal istrimu dengan baik… apapun yang terjadi… dan bersabarlah’.
readmore »»  
Rabu, 26 September 2012

Seseorang Yang Pantas Kalian Imami Kelak

Kau mencintau Q seprti bunga mencintai titah TUhan nya,
tak pernah lelah menyebar mekar aroma bahagia
tak pernah lelah meneduhkan gelisah nyala,

Kau mencintai Q seprti seprti matahari mencintai titah Tuhan nya,
tak pernah lelah membagi cerah cahaya,
tak pernah lelah menghagatkan jiwa...

Cinta seprti itulah yang pantas kaliaan dpatkan klak...
Seseorang yg pntas untuk jdi Imam atua
seseorang yg pntas kalian Imami kelak...
readmore »»  
Minggu, 23 September 2012

Cerita Cinta Yang Tak Di restui

Pada suatu sore hari, disebuah toko terdengar bunyi telepon, dan telepon ada seorang cewek yang menerima telepon itu. Dari seberang sana membalas menyapa dengan ramah. Setelah itu pada minggu siang , datang seorang cowok itu ke toko dan menanyakan info tentang pemasaran pada saya.

Setelah cowok itu datang , baru saya tahu dia cowok yang sering telepon ketoko. Dari pertemuan itu kesannya sangat baik, dari sana kita berkelanjutan dengan saling tukaran no HP , email di Facebook.

Dari sana kita tiap hari sms saling tukar kabar dan cerita , dan berkelanjutan janjian untuk jumpa di luar, dari sana kita semakin dekat. Dari pertama kenalan sampai lajutan sms , saya mulai timbul perasaan suka sama dia , cuma takut untuk berkata jujur.

Sampai masuk bulan ke 3 sejak saya kenal dia. dan tangal 11 adalah hari istimewanya karena adalah hari ulang tahunnya, ia mengajak saya merayakan ulang tahunnya. Kami merayakannya di rumah makan “KS” , disini kita bercerita sambil makan menikmati suasana disana.

Waktu pulang dia tiba-tiba meminta hadiah dari aku , hadiah itu berupa ciuman pertama saya. saya terkejut namum karena ini adalah ulang tahun dia maka saya berikan ciuman pertama saya dan memguncapakan selamat ulang tahun.

Malam itu saya sangat senang karena hubungan kita ada mengalami kemajuaan, keesokan hari kita dengan bertelepon di jam kerja kantor. Pulang dari jam kerja kadang dia mampir ketoko sesaat sebelum pulang kerumahnya. Kadang kita belajar bersama dan saling tukar pikiran. Dia sangat dekat dengan teman cewek di kantornya dalam soal hubungan kerja. karena cemburu saya dan dia pernah bertengkar hebat.

Dua hari dia tidak mau membalas sms dan angkat telepon saya. saya sendiri berpikir mungkin kita ngak mungkin bisa bersama lagi, dan saya telah merelakanya untuk pergi dari saya.

Tiba-tiba sms masuk dari dia, kami melanjurkan hubungan kami kembali. Dan suatu hari dia waktu datang kerumah saya , Saya mengajaknya makan bersama, siap makan kami bercerita dan bercanda sambil duduk diruang tamu.

Pada saat kakak saya pulang dari ngantor. dia bertemu dengan kakak saya. Kakak saya menanyakan kedia ,apa sebenarnya status hubungan saya dengan dia.

Dan dia menjawab pacaran, dan kakak saya bertanya lagi, apa orang tua mu tahu hubungan kita? Orang tuanya tidak setuju makanya tidak di kasi tahu. Kakak saya tidak setuju dan mengatakan “apa kalian ingin melanjutkan hubungan ini dengan tidak ada akhirnya.”

“Apa mau jadi anak durhaka nikah di luar restu dari orang tua?” Dia tidak bisa berkata apapun cuma diam terpaku. Dan saya sendiri tidak tahu mau bicara apalagi.

Setelah selesai bicara dengan kakak saya, dia turun tangga dengan tidak bergairah dan wajahnya pucat pasi. “Dia bertanya mau gimana kita?” Saya waktu itu benar-benar tidak tahu gimana? kepala saya sangat pusing dan hati saya serasa pecah.

Kami duduk dengan membisu, tidak tahu apa yang mau di bicarakan lagi. saya mulai menanggis sambil bertanya” jadi kamu maunya gimana untuk melanjutkan hubungan ini”

Dan dia berkata ” Kalo kamu yang disuruh memilih, saya atau orang tuamu, pasti kamu pilih orang tuamu kan , begitu juga saya? Padahal dalam hati saya kepingin dia menjawab akan memilih saya. Tapi dia memilih orangtuanya dan bukan saya.

Dan saya tahu walaupun dia pilih orangtuanya, dia tidak bersalah karena dia adalah anak tunggal, anak satu-satunya harapan ada pada dirinya yang menjadi tumpuhan orangtuanya. Setelah berbicara demikian, dia minta pamit untuk pulang.

sesampai didepan pintu , saya berkata ”kalau bisa kita jangan ada perubahan” ”Lihat besok nanti ku kasih kabar” Katanya sambil berlalu. Lewat beberapa menit, Saya sms tanyakan hubungan kita.

namum dia hanya menbalas dengan sikap yang dingin, dia tidak ingin menbahas masalah ini sekarang karena alasannya dia capek sekali dan ingin istirahat. Saya kecewa dan tak bisa berkata apapun cuma mengiyakan dia tidur untuk melupakan hal-hal yang menyedihkan.

Dimalam kesunyian saya menanggis, air mataku tak henti-henti mengeluarkan air mata. hatiku sangat sakit menggingat hubunganku yang tidak mulus. sampai kesedihan ini terbawa tidur.

Dipagi hari dengan mata yang bengkak, saya masuk kerja, dan melakukan perkerjaan rutin , dengan pemesanan barang ke kantor dia. Dalam pembicaraan dengan dia, saya merasakan ada perubahan besar padanya.

“Gimana pendapatmu mengenai kelanjutan hubungan kita” saya akhirnya mengatakanya “kalau saya bilang bisa di lanjutkan, gimana? Kamukan tahu orang tua yang saya pilih.” dia balas dengan dingin.

Saya terdiam dan menutup pembicaraan ini, hatiku sangat sakit karna tau dia mau mengakhiri hubungan ini. Kadang dia basa-basi sms saya menanyakan kabar saya. dengan kesal saya menjawab “Kamu rasa saya masih bisa baik kah?”

Balasannya ” Saya mau gimana lagi? kita sampai akhir juga ngak mungkin bisa bersama, dilanjutkan juga percuma saja. kita cuma menghabiskan waktu dan hati kita akan semakin terluka.” kata-katanya memang ada benarnya ,Tapi hati ini sangat tak rela melepaskannya karena status yang berbeda.

Saya belum bisa menerima kita harus mengakhiri hubungan kita karena perbedaan status ,padahal hari-hari yang kita lewatkan cukup menyenangkan walaupun banyak cewek yang kepingin ingin jadi pendampingmu.

Waktu itu kita lagi jalan, dia sering membalas sms dari teman ceweknya, itu cukup membuat aku kesal. Namum aku menerima sikapnya asal ngak kelewat batas yang wajar.

Selain itu saya dan dia telah menerima apa adanya dalam diri kita ,kekurangannya dan kelebihannya, namum orang tua kita tidak bisa menerimanya.

Dia sudah mengambil keputusan untuk mengakhiri hubungan ini berubah menjadi teman. saya tidak bisa menerimanya karena saya masih ada perasaan padanya.

Tapi apa mau dikata, dia sudah memutuskan hubungan ini dan dia pasrah melepaskan hubungan ini dengan berat hati.

Memang kita masih seperti biasa, berbicara ditelepon dalam hubungan kerja. tapi tidak seperti sikap yang mesra lagi, sekarang sikapnya agak dingin dan seperti menjaga batas.

Dari sikapnya hati saya sangat sakit, kenapa harus dia sangat cuek kepadaku? Apa dia tidak memikirkan perasaan saya yang merasakannya? Dengan gampang dia melepaskannya begitu saja?Tampa memikirkan saya gimana?

Saya dari belakang terus melihat dia jalan kedepan meninggalkan saya sendiri disini tampa menoleh kepalanya!!. Kebelakang untuk melihat saya …………..melihat saya……… yang disini.

————————————————————————————

- Cinta adalah pencipta keindahan terhebat.

- Tidak ada yang dapat mengimbangi besarnya nilai kenangan bersama dalam kenangan melalui masa sulit bersama.

- pernahkah kamu merasakan, bhawa kamu sanggup melakukan apa saja demi seseorang yang kamu cintai meski kamu tahu,ia takkan pernah perduli? ataupun ia peduli dan mengerti ia tetap pergi?

- pernahkah kamu merasakan hebatnya cinta? terseyum kala terluka, menanggis kala bahagia, bersedih kala bersama, tertawa kala berpisah?

- aku pernah terseyum meski terluka, karena kuyakin tuhan tak menjadikannya untukku

- dan aku pernah menanggis kala bahagia, karena ku takut kebahagian cinta ini akan sirna begitu saja

- aku pernah bersedih kala bersamanya, karena ku takut aku akan kehilangan dia suatu saat nanti

- dan aku juga pernah tertawa saat berpisah dengannya, karena sekali lagi ” cinta tak harus memiliki” dan aku yakin tuhan telah menyiapkan cinta yang lain untukku

- aku tetap bisa mencintainya, meski ia tak dapat kurengkuh dalam pelukanku, karena memang cinta ada dalam jiwa, bukan dalam raga.
readmore »»  

I miss you even though you’re here

I miss you even though you’re here
I can hear your voice loud and clear
But I know you’re about to leave again
Cause that’s the way it’s always been

I talk to you as if you never leave
I build my dreams out of pure belief
I walk the streets looking for a sign
For someone to say I’ll soon be fine

There’s always a feeling of emptiness
That always leaves me so breathless
It takes over the moment you go
And it takes a while to release and let go

But then you’re back once again
And I praise the lord, I say Amen
But deep inside I know it’s temporary
And that’s a burden that I have to carry

You realize you mean the world to me
And I make it look like it’s so easy
I do it all so you won’t feel my pain
But all the pressure is driving me insane

We’re stuck at a crossroad for years now
And the scene won’t end until we take a bow
But who has the courage to initiate
Is a whole new chapter that has to wait.
readmore »»  
Sabtu, 22 September 2012

Kau Tak Pernah BIsa

Watashi wa hontōni anatanokokoroni nani o rikai shite inai, Watashi wa anata ga nozomu mono o ataete kureta to Anata ga watashi ni ataeta mono watashi wa sudeni yūga ni sore o uketotta.

Shikashi, anata wa, watashi ga jissai ni kanjite iru koto o imi suru koto wa dekimasen Watashi wa subete kore de okashiku nari-soda Watashi wa son'nani anata o aishiteirukara, watashi wa sashihikaeru.

Kono hōhō de, anata ga terhabat a~tsu kanjimashita, Watashi wa chinmoku o mamotte kitaga, oku no baai, watashi wa anata o kizutsukeru tsumori ga, watashi wa semotare nashi de tengokudenai kamo shirenai koto ni kidzuita.

Kono hōhō de, anata ga terhabat a~tsu kanjimashita, Watashi wa chinmoku o mamotte kitaga, oku no baai, watashi wa anata o kizutsukeru tsumori ga, watashi wa semotare nashi de tengokudenai kamo shirenai koto ni kidzuita.

Watashi wa watashi ga imamade watashi wa nani o subeki ka sakasama mawasu koto ga shitai, watashi wa omoiyari no aru yo ni shitaiga, watashi wa, tabun watashi wa wagamama sugiru ndaga dekimasen.

Shikashi, watashi wa itsumo, watashi wa anata ga ga watashi no iki no saigomade tebanasu koto ga dekinakatta koto o iitakatta
readmore »»  
Jumat, 21 September 2012

Pengkhianatan

yaah, inilah puisi gue pas disuruh bikin puisi pas pelajarn bahasa indonesia. Ini sih gag pengalaman pibadi, cuma lagi kepikiran bikin puisi ini, check this out;

Pengkhianatan

Jangan pernah sebut kita SAHABAT lagi!
kau kemanakan kepercayaanku?
kau kemanakan janji-janjimu?
Egois!
Sahabat tak hanya sebuah sandangan!
Sahabat adalah
sebuah kata biasa yang bermakna sesuatu..
Sesuatu yang penuh dengan kebahagiaan, kenangan dan kebersamaan
TAPI KAU MENGISIKANNYA DENAGN PENGKHIANATAN!

Kau SUDAH pernah berjanji tak kan mnegulangi semua itu!
Butuh berapa kali janji itu terlontar dari mulutmu?
BUTUH BERAPA KALI??!!
PULUHAN TELAH KUDENGAR!
Ku tak sanggup menahan semua
Semua kesalahan besarmu itu sama!
Dasar otak udang!
Jangan pernah ada unutukku lagi.

readmore »»  
Rabu, 19 September 2012

Rara Reinkarnasi Chingu

Rara namanya dia anak yang cantik, anggun, pintar, kaya-raya, baik hati, dan ceria. Dia anak yang sempurna sangat sempurna, tapi hanya satu kekurangannya yaitu tidak mempunyai tubuh yang sehat. Sekarang dia duduk di kelas enam di bangku sekolah dasar dan kini sedang menghadapi ujian akhir.

Lalu setelah lulus, dia mendapat nilai tertinggi sekabupaten. Dia masuk sekolah yang bernama SMP 2, sekolah terfavorit di wilayah ini. Suatu hari ayahnya memberi sebuah kamar tidur yang diberi nama oleh Rara ialah “Father”.
“Kenapa diberi nama seperti itu?”, tanya ibu
“Karena ayah jarang pulang ke rumah, lagi pula ini adalah hadiah yang sangat berharga bagiku. Karena di dalamnya terdapat mainan, buku-buku, dan juga alat-alat musik yang Rara sukai ma”, jawab Rara dengan girang.

Di sekolah Rara dikenal anak yang ramah dan pintar, tapi baru seminggu Rara bersekolah di sana. Ibunya meninggal karena mengalami kecelakaan lalu-lintas di Surabaya. Setelah pemakaman ibunya yang tercinta, Rara tidak mau pergi sekolah selama sepuluh hari. Selama sepuluh hari itu Rara terus menangis di kamar “Father”-nya. Lama-kelamaan ayahnya bosan mendengar suara tangisan pilu anaknya yang kehilangan ibu kandung tercintanya itu. Sebenarnya ayah juga merasa sedih tapi apa mau dikata yang sudah pergi biarlah pergi karena tak dapat kembali lagi. Dalam pergulatan pikiran tersebut munculah ide dalam benak ayah “Bagaimana kalu ayah menikah lagi!”.

Rara menyetujuinya, kemudian ayah menikah dengan tante Martha cinta pandangan pertama ayah. Dua hari kemudian Rara kembali bersekolah, walaupun kadang-kadang Rara teringat ibunya yang sudah meninggal. Dia berusaha untuk tidak menangis karena dalam benaknya selalu terngiang “Ibumu meninggal karena dia ingin memberimu seorang adik”, jadi ibu tirinya sekarang sedang mengandung. Namun lima bulan kemudian, ternyata anak yang dikandung tante Martha mengalami keguguran. Setelah itu tante tak bisa mempunyai anak lagi. Karena itulah, tante Martha sangat sayang kepada Rara dan menganggap Rara sebagai anaknya sendiri. Tiga minggu kemudian ayah Rara berdinas ke Bandung. Tiba-tiba dua hari setelah itu, ayahnya terserang penyakit jantung dan tak dapat ditolong lagi kemudian meninggal.

Terus dan terus menangis, Rara mengurung diri di kamar pemberian ayahnya. Serasa bila memasuki kamar “Father”-nya seperti sedang dipeluk ayahnya. Pelukan itu sangatlah hangat, pelukan itu melambangkan betapa ayahnya sangatlah menyayanginya.

Sebulan kemudian, Rara masuk sekolah lalu teman-temannya dengan raut wajah khawatir menanyakan keadaannya. Setelah itu meminta maaf ketika mengetahui bahwa ayah Rara telah meninggal. Setelah beberapa hari bersekolah, perubahan sikap Rara muncul kepermukaan. Biasanya dia ceria namun kali ini dia menjadi pendiam dan tadinya sangatlah ramah menjadi pemarah. Karena dia tahu diam-diam beberapa temannya telah memanfaatkannya. Lalu terjadilah isu atau omongan-omongan yang tak enak didengar telinga khususnya bagi Rara. Misalnya seperti “Rara judes”, “Bawel”, “Jahat”, “mau menangnya sendiri”, dan lain-lain.

Lama-lama Rara jadi tak tahan mendengarnya, juga sikap teman-teman yang mulai menjauhinya. Tiba-tiba dalam suatu pertengkaran “Ehk…”, Rara pingsan. Tubuhnya membentur lantai kelas, kemudian dia dilarikan ke rumah sakit. Tante Martha sedari tadi bolak-balik di ruang tunggu rumah sakit. Dia tak sabar menunggu berita dari dokter tentang keadaan anak tirinya itu. Rara, dia terserang penyakit jantung mendadak. Sejak kejadian itu, sikap Rara mulai berubah. Caranya memandang orang, senyum yang tak nampak di bibirnya yang merah merekah.

Empat minggu kemudian penyakit jantungnya kembali menyerang dan bertambah parah. Namun ada satu hal yang aneh yaitu kelainan pada bagian hatinya. Dokter sendiripun tidak tahu penyakit tersebut dan penyebab penyakit tersebut. Sakit itu bertambah parah, dokter menganjurkan “Sebaiknya Rara pindah sekolah, mungkin lingkungan sekolahnya yang sekarang tidak cocok untuknya”, ibu Rara mengangguk lalu segera melaksanakan anjuran dokter.

Setelah sampai di rumah, ibu menasehati Rara agar mau pindah sekolah. Kemudian Rara menyutujui, dengan berkata “Memang lingkungan sekolah Rara yang sekarang tidak cocok dengan kondisi hati Rara. Apalagi dengan suasana wajah teman-teman ketika menatap Rara”.

Akhirnya Rara pindah sekolah, dia pindah di sekolah sebelah sekolahnya yang dulu. Dia mendapatkan teman sebangku yang bernama Era. Era adalah anak yang baik, ramah, dan juga sabar. Dia orang pertama yang begitu tahu perasaan Rara, walaupun Rara tak pernah menceritakannya kepada Era. Di sekolah ini rata-rata murid-muridnya bersikap cuek, tidak ambil peduli atas kedatangan Rara. Tapi Rara mempunyai teman yang sangat membencinya yaitu Laila. Dia anak yang berprestasi bagus dalam pelajaran, namun ketika Rara datang dia mulai merasa tersaingi.

Suatu hari Rara memerlukan ketenangan untuk berkonsentrasi dalam mengerjakan soal “Era, aku mau tanya. Di mana tempat yang tersembunyi dan tak ada orang sama sekali?”, tanya Rara ketika itu. Wajah Era agak berubah “Di sana, di sebelah laboratorium IPA. Di sana ada pohon yang menutupi benda yang cukup mengerikan di dalam tanah”, jawab Era dengan wajah agak pucat. Rara cuek dengan perkataan temannya yang aneh itu, bergegas dia menuju tempat tersebut. Tiba-tiba,
“Tunggu, jangan kesitu!”
“Kenapa?”
“Di situ berbahaya, yang kumaksudkan sesuatu yang ada di dalam tanah…”, perkataannya terhenti. Kepalanya menunduk, kemudian menatap lekat Rara “Sesuatu itu adalah mayat. Mayat seorang lelaki, dia adalah murid sekolah ini. Dia mati karena digigit ular kobra. Saat ditemukan mayatnya tinggal tulang-belulang tapi ketika diangkat. Tiba-tiba saja, tulangnya masuk kedalam tanah. Kejadian itu sangat aneh, aku juga pertama-tama tak percaya. Namun setelah melihat sendiri, arwah lelaki tersebut yang melayang. Dia selalu berkata “Aku akan membunuhmu”, dengan kepala merunduk”, ucap Era dengan nada sangat meyakinkan
“Terima kasih atas pemberitahuanmu, tapi aku tak percaya dengan hal seperti itu. Kalau memang ada, aku tak takut”, ucap Rara tenang.

Akhirnya Rara nekat juga pergi ke lab IPA, dengan buku fisikanya dia duduk di samping pintu bagian depan lab IPA. Lalu dia mulai belajar dengan serius seperti biasanya. Perlahan-lahan timbul warna cokelat melayang-layang di udara. Membentuk seorang lelaki yang berwajah pucat menatap Rara. Rara diam saja seolah-olah dia tak melihatnya. Bayangan cokelat itu kini sedang duduk di samping Rara sambil terus memperhatikan sosok gadis itu. Keadaan sekitar sepi, bagai sekolah sudah tak ada kegiatan lagi. Di samping kanan adalah dedaunan yang menutupi gerak-gerik Rara. Arwah itu mulai berbicara “Kau tak takut padaku?”, namun Rara tidak angkat bicara “Aku bertanya padamu”, kali ini suaranya lebih keras “Mengapa aku harus takut padamu, sedangkan aku tidak tahu sifatmu!”, seru Rara “Oh, begitu”, arwah itu diam sejenak “Bagaimana kalau kita berteman, supaya kau mengetahui sifatku yang sebenarnya?”. Suara itu sangat dingin, membuat bulu guduk berdiri tegak. Rara merasakannya jelas, tapi kecuali dengan kata teman itu. Terdengar hangat dan ramah, tiba-tiba saja jantung Rara berdegup. Dia terperanjat kaget melihat tampang bayangan cokelat itu. Wajahnya tampak kusut, saat itu mata bayangan tersebut sedang menatap tanah kosong “Baiklah, aku akan jadi temanmu”, kata-kata itu keluar begitu saja dari mulut Rara. Setelah menjawab, ada perasaan aneh yang menyelimuti hati Rara. Perasaan yang tak diketahuinya, tapi rasanya sangatlah menyenangkan. Namun “Aah…”, ringis Rara sambil memegang dadanya “Lepaskan tanganmu, aku akan menyembuhkanmu”
“Kau sebenarnya siapa?”
“Namaku Randi, aku adalah orang yang sudah meninggal. Jadi orang yang sudah mengalami mati itu bisa berbuat apa saja sekehendak hati”

Randi membuka baju Rara dan menyilak kaos dalamnya yang terlihat sekarang hanya pakaian dalam Rara. Randi menyentuh Rara dibagian dadanya, perlahan-lahan Randi menghisap darah Rara melalui jari-jarinya yang dingin. Randi menyentuhnya sampai rasa sakit gadis itu hilang.

Dari hari ke hari, mereka semakin dekat dan akrab.Setiap penyakit Rara kambuh, Randi selalu melakukan hal sama. Semakin sering dia melakukan itu semakin pucatlah wajah Rara. Akhir-akhir ini Rara cepat sekali capek, namun Rara sama sekali tak menyadarinya. Suatu ketika Rara pulang dengan berjalan kaki seperti biasanya. Tak sengaja Rara menabrak seorang lelaki yang sudah setengah baya “Maaf kek, saya tak sengaja”, ucap Rara dengan membungkukkan badannya “Aku tidak apa-apa, hei kenapa wajahmu nak. Mengapa pucat sekali?”
“Ah masa, aku tak merasakannya. Memangnya bapak siapa?”, tanya Rara penasaran.
“Aku adalah paranormal. Ehm…bisa kulihat telapak tangan kirimu”, pinta kakek dengan mengulurkan tangan kanannya. Dengan ragu-ragu Rara mengulurkan tangan kirinya “Wah nak, kau hebat sekali!”, seru kakek kagum “Apanya kek?”
“Kau pasti kenal dengan Randi. Sebaiknya kau menjauhi arwah warna cokelat itu. Sebab dia ingin bermaksud jahat padamu, Randi sedang memanfaatkanmu nak. Dia menyedot darah segarmu. Randi sengaja menawarkan pertemanan kepadamu agar dapat mencelakaimu”, setelah bebicara kakek pergi begitu saja.

Sepanjang jalan Rara hanya memikirkan kejadian yang barusan saja dialaminya. Ada yang memusnahkan sesuatu yang berada di hatinya. Memusnahkan rasa saat pertama kali bertemu dengan Randi, memusnahkan semua perasaan yang dia alami ketika melalui hari bersama Randi.

Setelah sampai rumah ibu menyuruh Rara untuk meminum obat “Ma, apalagi sih ngapain aku meminum obat. Lagian penyakit jantungku sedang tidak kumat”, tolak Rara “Wajahmu pucat sayang, lagian juga penyakitmu belum sembuh benar. Ayo diminum”, ibu menjulurkan tangannya yang sudah memegang obat dan air minum “Tidak!”,tukas Rara.

Semalaman Rara terus memikirkan kejadian tadi, yang ada di benaknya sekarang terngiang-ngiang di pikiran “Teman-temanmu di SMP dulu semuanya membencimu, lalu Laila juga sangat membencimu. Dan teman satu-satunya ingin membunuhmu!”

Esoknya Rara mencari Randi, dia sudah memasrahkan dirinya untuk dibunuh Randi. Ternyata Rara lebih memilih mati dari pada hidup di dunia ini. Mereka bertemu di tempat di mana mereka biasa bertemu “Randi, aku sudah mengetahui maksudmu untuk menjadi temanku”, ucap Rara sambil menatap wajah bayangan cokelat “Bagus, aku tidak menyangka kalau kau sampai menyerahkan dirimu. Sekarang kau sudah tahu dengan sifatku yang sebenarnyakan?”
“Aku masih belum mengetahui sifatmu yang sebenarnya, tapi… Aku ingin kau melanjutkan penghisapan darahku, aku mohon”. Randi segera melakukannya, kemudian dia membuka baju Rara. Gadis itu hanya bisa memejamkan matanya, saat Randi ingin menyentuh dada gadis itu. Waktu terhenti dan
“Siapa yang melakukan ini?”, tanya Randi sambil berteriak
“Aku kobra”
“Kaukan sudah lama menghilang!”, teriak Randi semakin kesal
“Yah dan sekarang aku seperti kamu. Randi, sebenarnya kau sukakan pada cewek ini?”
“Apa maksudmu, aku suka dengan gadis ini. Itu tidak mungkin!”
“Jangan lakukan itu Randi. Karena bila kau membunuhnya, kau tak akan bisa berenkarnasi. Walaupun dia mati, kau tak akan bisa bertemu dengan dirinya lagi”
“Aku tidak peduli!”
“Bohong, sebenarnya kau sangat memudulikannya. Karena kau menyukainya!”
“Tidak, aku sama sekali tidak menyukai gadis berpenyakitan ini”
“Kalau itu perasaanmu yang sebenarnya. Lakukan, hisap darahnya sebanyak yang kau inginkan dan bersiap-siaplah untuk jadi arwah gentayangan untuk selama-lamanya!”. Randi berfikir sejenak, lalu timbul perasaan yang aneh yang sulit dijelaskan. Tiba-tiba saja perasaan enggan untuk membunuh Rara timbul, memenuhi seluruh tubuhnya. Perlahan-lahan bayangan cokelat itu menjauhi Rara dan mulai menghilang.

Waktu berjalan kembali, Rara ditemukan pingsan tanpa baju terbuka sedikitpun. Bajunya Rapih seperti sediakala. Rara kemudian langsung di larikan ke rumah sakit. Ketika sadar, dia menceritakan perihal dirinya kecuali arwah itu. Karena dia hanya ingin menyimpannya sendiri, hanya dia seorang tidak boleh ada orang lain.

Setelah Rara sembuh, dia langsung mencari Randi namun dia sama sekali tak menemukan sosok bayangan cokelatnya itu. Beberapa hari Randi tidak diketemukan Rara. Rara mulai gelisah dan berfikiran yang bukan-bukan. Suatu hari “Randi di mana kamu, apakah kau sudah tak mau bertemu denganku. Aku tak akan memintamu untuk menghisap darahku lagi, aku janji”, dengan nada penuh rasa cemas. Rara bersender di tembok samping pintu, tiba-tiba saja ada seseorang yang memegang pundaknya “Eh…”
“Hai, hantunya sudah tak muncul lagi ya?”
“Ya…”, jawab Rara lemas kemudian dia menatap wajah orang tersebut “Randi…!”, teriak Rara gembira. Setelah mata itu melihat kebawah, Rara merasa heran. Kaki milik Randi menyentuh tanah “Kau masih mengenaliku Rara. Aku telah berenkarnasi, aku sekarang sama persis sepertimu”, dia memang Randi. Hantu yang berwarna cokelat yang selalu menemani Rara ketika pelajaran kosong, ketika istirahat, ketika ingin pulang sekolah, ketika Rara masih di sekolah. Rara merasa senang apa yang telah dikatakan Randi. Apalagi dia sudah tak merasakan bulu guduknya berdiri setiap Randi membuat kata. Randi memperkenalkan kawan yang berdiri di belakangnya “Ini adalah kobra sahabatku. Dia yang telah membantuku berenkarnasi seperti ini agar dapat bertemu denganmu terus. Dia juga sama sepertiku, berenkarnasi”, ucap Randi sambil membuat singgungan senyuman di bibir Rara. Namun senyum di bibir Randi tidak berlangsung lama. Rara pergi untuk selama-lamanya, meninggalkan sebuah senyuman yang manis. Yang telah hilang sejak kedua orang tuanya meninggal. Rara meninggal di pelukan Randi, teman terbaiknya. Sambil mengeluarkan air mata, Randi membawa Rara ke pantai, sayup-sayup terdengar sebuah lirik

Angin…bawalah dirinya kesana
Angin…bahagia hatinya kini
karena telah mendapat teman di sisinya
Oh angin…pantai

Karya : Lail Brichana Riani
readmore »»